Jumat, 19 September 2014

Pembahasan Singkat Positivisme Logis


Untuk penjelasan "Positvisme Logis", kita harus tau dulu apa itu "Positivisme". "Positivisme" adalah sebuah paham yang berkembang di masyarakat Eropa pada awal abad ke-19 sampai ke-20. Positivisme itu sendiri sebenarnya adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika. Positivisme awalnya adalah sebuah filsafat yang menyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari.
Pemahaman Positivisme ini dicetuskan pada pertengahan abad ke-19 oleh salah seorang pendiri ilmu sosiologi yaitu "Auguste Comte". Ia percaya bahwa dalam alam pikiran manusia melewati tiga tahapan yaitu tahap teologis, tahap metafisis, dan tahap positivisme. Pertama tahap yaitu Teologis, Dalam tahap ini peristiwa-peristiwa dalam alam dijelaskan dengan istilah-istilah kehendak atau tingkah dewa-dewi. Dalam semua peristiwa alam diyakini bahwa ada kekuatan supranatural yang mengatur dan menyebabkan semua kejadian alam. Lalu yang kedua adalah tahap metafisik, Di tahap ini peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan melalui hukum-hukum umum tentang alam. Dikatakan juga sebagai modifikasi dari tahap Teologis, bedanya pada tahap ini kekuatan dewa-dewi diganti oleh entitas metafisik yang dianggap ada pada setiap benda.  Dan tahap yang ketiga adalah positivisme, ini merupakan tahap berpikir real, faktual dan nyata sebagai dasar pengetahuan, dalam tahap inilah semua peristiwa-peristiwa dijelaskan secara ilmiah. Comte berpendapat bahwa ini merupakan puncak dari tahap pemikiran manusia, ia mengartikan bahwa Positivisme sebagai segala sesuatu yang nyata, yang jelas, yang pasti dan bermanfaat.
Namun sayangnya pemahaman Positivisme ini dianggap mengandung beberapa kelemahan yaitu, Reduksi realitas pada fakta yang teramati telah menyingkirkan dimensi dan prefektif lain, dan memandang manusia hanya sebagai objek. Pandangan seperti itu tidak dapat dibenarkan. Lalu yang kedua, Positivisme tidak mengakui sifat kontigensi, relativitas dan historisitas (rasio) manusia. Lalu Positivisme juga tidak mampu menjelaskan keberagaman budaya dan keuinikan manusia seperti budaya lokal, etnis, agama, dan kultur. Karena itu Positivisme ditolak oleh pendukung Post-Positivisme dan Postmodernisme, serta dalam ilmu sosial-budaya, Positivisme banyak di kritik dan ditinggalkan. Lalu kepercayaan Positivisme ini bahwa ilmu pengetahuan akan membawa kepada kemajuan ternyata di sisi lain juga membawa pengaruh yang negatif seperti persaingan senjata/perang, kesenjangan antara negara kaya dan miskin, masalah ekologi dan lain-lain. Maalah ini juga merupakan kritik dari kaum Post-Positivisme terhadap Positivisme yang sangat mempercayai bahwa ilmu pengetahuan dapat menciptakan keadilan, kemakmuran dalam masyarakat modern. Ilmu pengetahuan dan teknologi memang bisa memberi kemudahan dan harapan bagi umat manusia, namun di sisi lain juga membawa dampak negatif (bersifat Ambivalen).
                                                                                                  
Sejak saat itu munculah dengan paham yang disebut "Postivisme Logis". Postivisme logis adalah suatu faham filsafat ilmu pengetahuan yang dimulai oleh Lingkaran Wina. Mereka menggabungkan beberapa aspek dari positivisne August Comte dan Ernest Mach dengan berapa aspek filsafat analitis. Terutama mereka terpengaruh oleh filsafat bahasa Wittgenstein. Lingkaran Wina merupakan sekumpulan ilmuan yang membahas mengenai ilmu pengetahuan. Positivisme Logis dipopulerkan di inggris oleh A.J. Ayers.  Beberapa tokoh filsafat analitik seperti Bertand Russel mulai mengemukakan istilah "Data Indrawi" sebagai suatu hal yang tidak dapat diragukan oleh semua aliran filsafat ilmu pengetahuan. Dia menolak Idealisme dengan menyatakan bahwa apa yang saya ketahui tidak dapat direduksi pada kesadaran saya mengenainya. Beberapa tokoh filsafat analitik menganggap bahwa idealisme itu bertentangan dengan akal sehat. Menurut mereka filsafat harus berpijak pada akal sehat dan alatnya adalah analisis. Dalam pandangan tokoh-tokoh positivisme logis atau fisafat analitik, pernyataan ilmiah harus disusun berdasarkan data indrawi, karena itu bahasa ilmiah dapat dianalisis benar tidaknya berdasarkan verifikasi faktual. Dalam pandangan mereka, hanya ada dua model bahasa yang rasional (bisa dibuktikan benar atau salah) yaitu kalimat atau proposisi analitis dan proposisi sintetis. Proposisi analitis adalah pernyataan logika dan matematika sedangkan sintetis berdasarkan fakta (pengalaman).
Tujuan dari Positivisme dan positivisme Logis sebenarnya adalah untuk menghancurkan filsafat dan metafisika, kecuali filsafat yang dapat menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan absolud. Positivisme membatasi bahsa ilmiah hanya pada dua hal yaitu bahasa faktual dan pernyataan logis matematis. Anehnya, kriteria tentang batas bahasa yang dikemukakan oleh tokoh positivisme logis itu sebenarnya bukan didasarkan oleh verifikasi empiris melainkan diterima begitu saja. Maka dari itu Sayangnya, Postivisme Logis memiliki kelemahan yang fatal. Ini disebabkan karena jika semua pernyataan yang tidak bisa diverifikasi tidak memiliki makna maka Positivisme Logis juga tidak memiliki makna karena pernyataan Positivisme Logis sendiri  sama sekali tidak bisa diverifikasi maka dari itu Positivisme Logis tidak bermakna.
Kesimpulannya, Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika. Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka dari itu sebenarnya tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Menurut saya suatu kebenara tetap bernilai benar meskipun tidak ada satu orangpun yang mempercayainya dan kesalahan tetaplah salah walaupun semua orang mempercayainya. Namun dalam ruang lingkup sosial hal itu sangat sulit berlaku karena disana  benar atau salahnya suatu hal tidak dapat benilai absolud atau universal, sesuatu dapat menjadi benar jika mayoritas ataupun pihak berkuasa saat itu menyatakan benar hal itu dan sesuatu bisa menjadi salah jika mayoritas dan pihak berkuasa menyatakan hal itu salah.

Referensi :
Buku Filsafat Ilmu - Dr. Akhyar Yusuf Lubis
www.philosophypages.com
catatan kuliah filsafat ilmu
pemikiran sendiri

Rabu, 17 September 2014

Pembahasan Ruang dan Waktu serta kalimat "The Solution of the riddle of life in space and time lies outside space and time" dari buku Wittgenstein berjudul "Tractatus Logico Philosophus"


Ruang dan waktu? Sepertinya tidak asing dengan kata-kata itu. Bahkan terkadang beberapa orang selalu menggunakan kata itu dalam menjelaskan sesuatu yang terdengar sulit. Misalnya "dimana kita hidup? Atau bangaimana kita bisa bergerak?" Jawaban para sainstis umum pasti ujung-ujungnya adalah karena kita terikat oleh "ruang dan waktu" dan begitulah akhir dari penjelasannya. Tapi apakah kita pernah berpikir apakah ruang dan waktu itu sebenarnya? Sebenarnya mengapa kita terikat oleh ruang dan waktu? Mengapa sepertinya ruang dan waktulah yang mengatur kita? Malah terkadang terasa seperti membatasi kita? Oh.. ruang.. oh..waktu... siapa kalian ini.. haduh..haduh... Oke kali ini saya akan membahas tentang "ruang dan waktu" sebagai pembahasan pertama dan kalimat "The Solution of the riddle of life in space and time lies outside space and time" sebagai pembahasan kedua.
Ruang dan waktu? Sebenarnya penjelasann tentang hal ini sudah banyak beredar di mana-mana, seperti internet, buku, majalah, koran atau pembicaraan sehari-hari. Sosok yang paling dikenal orang tentang pembahasan hal ini adalah "Albert Einstein" yang kita tau bahwa dia adalah seorang ilmuan hebat, fisikawan, pintar, cerdas, jenius, keren, kece, dan mungkin dia adalah seorang papa yang baik buat mama. Apapun yang kita tau ya itulah. Meskipun sebenarnya jika kita masih ingin mencari tau lagi, masih banyak sosok lain yang tentunya pernah membahas hal ini. Pembahasan mengenai apa itu ruang? Dan apa itu waktu? Juga sudah banyak beredar.
Menurut saya sendiri, sebenarnya ruang dan waktu itu tidaklah pernah ada. Kenapa? Ruang dan waktu itu hanyalah buatan, hal itu ada karena adanya materinya nyata (wujud/fisik). Jika materinya nyata terbentuk maka dia akan menempati hal yang disebut "ruang" dan kapan materi itu terbentuk maka dia di anggap telah menempati hal yang disebut "waktu". Sehingga ruang dan waktu merupakan keterbatasan dari materi nyata itu sendiri. Lalu apakah jika itu bukan materi nyata maka akan bebas dari ruang dan waktu? Jawabannya adalah iya. Lantas bagaimana dengan kecepatan cahaya? Bukannkah kalau suatu benda memiliki kecepatan cahaya maka dia akan bisa pergi ke masa lalu atau mungkin masa depan? Jawabannya tidak, karena cahaya itupun masih merupakan materi. Dengan kata lain benda itu tidak pergi ke masa lalu ataupun masa depan tetapi benda itu hanya terlihat bergerak lebih cepat dan ruangan yang melambat atau mungkin malah sebaliknya ruanganya yang terlihat bergerak lebih cepat dan si benda yang melambat, dengan kata lain waktu adalah relatif. Jadi ngak ada yang namanya pergi ke masa lalu atau masa depan dong? Jawabanya belum tentu, mungkin saja itu bisa dilakukan. Bagaimana caranya? Dengan mengubah materi tersebut menjadi bukan materi dan membawanya ke ruang dan waktu yang diinginkan. Berarti saat benda itu pindah ke masa lalu atau masa depan ada jedah antara dia pindah, itu berarti ada saat dimana benda itu menjadi materi nyata lalu menjadi bukan materi nyata lalu menjadi materi nyata lagi, maka bukankah artinya yang bukan materi nyata juga terikat oleh ruang dan waktu? Nah.. itu dia point pentingnya, ketika sebuah materi keluar dari ruang dan waktu untuk masuk ke ruang dan waktu lainnya maka materi tersebut harus menjadi bukan materi terlebih dahulu baru dia bisa masuk ke ruang dan waktu lainnya. Tapi disinilah letak masalahnya, bagaimana caranya yang bukan materi bisa menjadi materi lagi dan bagaimana caranya membentuk ruang dan waktu itu? Harus ada pemicu dan faktor yang kuat untuk dapat membuat semua itu, jika tidak maka si materi yang bukan lagi materi itu akan tetap menjadi bukan materi dan ia sudah di luar ruang dan waktu. Jadi kesimpulannya apapun itu, jika hal itu masih merupakan materi nyata maka dia tidak akan bisa keluar dari apa yang disebut oleh ruang dan waktu.
Lalu permasalahan yang kedua "The Solution of the riddle of life in space and time lies outside space and time" arti dalam bahasa indonesianya "solusi dari teka-teki kehidupan di dalam ruang dan waktu terdapat diluar ruang dan waktu" kata-kata ini ditulis oleh seorang yang katanya adalah seorang filsuf bernama "Wittgenstein" dalam bukunya yang berjudul "Tractatus". Lalu apa masalahnya? Masalahnya apa maksud dari kata-kata itu? Jawabanyasih gampang, ya tinggal tanya saja sama yang buat. Tapi sayangnya orangnya udah gak ada dan saya juga kekurangan informasi tentang itu. Entah memang tidak ada penjelasannya atau mungkin saya yang belum baca, saya tidak tau. Tapi dari informasi yang saya dapat bahwa buku buatan Wittgenstein berjudul "Tractatus" ini terkenal dengan isinya yang susah di pahami. Seharusnya saat Wittgenstein masih hidup suruh dia ngejelasin biar paham, jangan mudah terpesona dengan kata-katanya saja. Ini menunjukan jika manusia lebih mudah terpesona ketimbang memahami suatu hal. Ok sekarang saatnya untuk menjelaskan tentang buku Wittgenstein yang berjudul Tractatus, penjelasan saya ini masih berupa hipotesis dan asumsi jadi belum tentu penjelassan saya sama dengan apa yang Wittgenstein maksud.
Dari info yang saya dapat Wittgenstein memiliki buku yang judul lengkapnya "Tractatus Logico Philosophus" buku itu berisi tentang proposisi-propisisi, tidak memiliki paragraf ataupun cerita-cerita keren di dalamnya. Hanya berisi 1.1..bla...bla..... lalu 1.2..bla..bla..... lalu 1.3........ dan begitu seterusnya. Ada yang bilang kalo buku ini di tulis saat Wittgenstein ikut dalam masa perang, entah ketika istirahat dalam perang atau malah di penjara dalam masa perang. Dari kata pengantarnya buku itu tertulis "Perhaps this book will be understood only by someone who has himself already had the thoughts that are expressed in it--or at least similar thoughts" artinya "Isi buku ini sebenarnya tidak menjelaskan teori apapun, tapi isinya lebih ke pengungkapan dan penggunaan bahasa sehingga bahasa itu bisa memiliki makna" dan "The whole sense of the book might be summed up the following words: what can be said at all can be said clearly, and what we cannot talk about we must pass over in silence." Artinya "hal ini menjelaskan bahwa apa yang bisa dikatakan berarti harus bisa dijelaskan secara faktual, dan apa yang tidak bisa dijelaskan berarti tidak memiliki makna, jadi lebih baik diam ketika terdapat bahasa yang tidak bisa dijelaskan." Melalui "Tractatus" Wittgenstein menjelaskan bahwa sebenarnya bahasa adalah ekspresi pikiran manusia terhadap realitas empiris manusia yang berawal dari pengalaman manusia lewat indera yang dimiliki manusia.  
Menurut saya buku ini lebih bersifat etis atau pribadi mungkin, buku ini adalah tulisan yang mengambarkan realita kehidupan melalui bahasa yang digunakan manusia sehari-hari. Buku itupun ia buat karena Wittgenstein mempelajari dan mengamati kehidupan yang dia jalani. Bahkan sebenarnya buku itu tidak sama sekali memberitau hal baru, buku itu hanya seakan-akan mengatakan berkali-kali kepada yang lainnya bahwa inilah realita, inilah adanya. Untuk apa dipermasalahkan? Karena yang itu ya memang itu dan yang ini ya memang ini, tidak ada penjelasan baru di sana. Jika kita mencoba menjelaskan sesuatu yang baru maka akibatnya pasti akan menjadi kacau karena perbedaan radikal setiap orang berbeda, dari waktu kewaktu, dari satu orang ke orang lain dan dari satu kelompok ke kelompok lain. Jadi maksud Wittgenstein dari bukunya adalah ya udah. Jadi bagi yang pernah baca bukunya hingga selesai jawabannya adalah ya udah, diam, gak ada apa-apa, ya mau apa? Relakan apapun itu karna kita tidak tau apa itu. Seperti kata-kata dalam bukunya sendiri "Apa yang tidak dapat kita bicarakan, kita harus membiarkannya dalam diam (What we cannot speak about we must pass over in silence).”
Jadi apa yang dimaksud dengan "The Solution of the riddle of life in space and time lies outside space and time" arti dalam bahasa indonesianya "solusi dari teka-teki kehidupan di dalam ruang dan waktu terdapat diluar ruang dan waktu" adalah..............................................................................................................................(Nothingness)

Referensi:
Gravitasi "Dr. Agus Usmansyah"
Catatan Kuliah
Penjelasan Dosen di kelas Filsafat
E-book Tractatus Logico Philosophus "Wittgenstein"
Pemikiran sendiri
Empiris

Sabtu, 13 September 2014

"Etika"


Suatu saat, kita sedang tidur di dalam kamar hotel lantai lima. Lalu tiba-tiba suara sirene berbunyi, ada sebuah bencana melimpa hotel itu yaitu meledaknya sistem energi listrik hotel tersebut yang berada di lantai paling dasar hotel. Kita sebagai penghuni kamar, hal pertama yang muncul adalah panik dan segera untuk pergi keluar, namun masalahnya terletak pada keadaannya. Di lantai paling bawah keadaannya sudah sangat kacau, ledakan terus menerus tanpa henti dan api yang terus membesar membakar semuanya. Untuk sementara semua pemikiran para penghuni hotel yang tersisah adalah lari menuju lantai atas untuk menyelamatkan diri, karena lift telah rusak maka terpaksa semua penghuni pergi ke lantai atas dengan menggunakan tangga. Ketika sampai di lantai atas para penhuni itu merasakan ada guncangan di bangunan hotel lalu mendadak bangunan itu menjadi miring, hotel itu akan segera jatuh. Dalam situasi yang sangat mengerikan itu sebagian penghuni memilih untuk pasrah "sudahhhlahh... lebih baik kita pasrah sajaa...!! sudah tidak ada cara lagi untuk menyelamatkan diri... hu..hu..hu..!!!" kata salah seorang penghuni yang telihat pucat, takut, dan panik sambil menangis dengan sangat keras. Sebagiannya lagi lebih memilih untuk tetap berusaha menyelamatkan diri, ada yang memilih untuk keluar melalui lantai dasar, ada yang memilih untuk terjun bebas dari jendela hotel dan lain-lain. Lalu kita sebagai penghuni yang melihat semua hal itu, apa yang harus kita lakukan? Melarang meraka yang mau pergi ke lantai dasar? Yang keluar loncat dari jendela? Menenangkan mereka yang lagi menangis panik? Menyelamatkan mereka semua? Bagaimana caranya? Apa yang harus kita lakukan?
Dalam kasus itu terlihat jelas bahwa salah satu kebutuhan manusia yang paling fundamental adalah orientasi. Sebelum melakukan sesuatu apapun kita harus mencari orientasi dulu. Kita harus tau dimana kita berada dan kemana kita harus bergerak untuk mencapai tujuan kita. Filsafat manusia mengatakan bahwa manusia itu aalah mahluk yang tau dan mau. Artinya kemauannya mengandaikan pengetahuan. Ia hanya dapat bertindak berdasarkan pengertian-pengertian tentang dimana ia berada, situasinya, kemampuannya, jadi tentang segala faktor yang perlu diperhitungkan agar rencanya dapat terlaksana. Maka ia membutuhkan orientasi. Tanpa orientasi ia tidak tau arah dan merasa terancam. Seperti orang-orang yang berada di dalam hotel itu, bingung dan ketakutan.
Dalam Filsafat, ada sebuah bagian pembelajaran yang disebut dengan "Etika". Lalu apa itu Etika, bagaimana penjelasannya? serta hubungannya dengan situasi tersebut? Etika merupakan sarana orientasi bagi manusia untuk menjawab suatu pertanyaan yang fundamental. Etika membantu kita untuk mencari orientasi. Tujuannya agar kita tidak hidup dengan cara ikut-ikut saja terhadap berbagai pihak yang menetapkan bagaimana kita mau hidup, melainkan agar kita dapat mengerti sendiri mengapa kita harus bersikap begini atau begitu. Etika membantu agar kita mampu untuk mempertanggungjawabkan kehidupan kita.
Untuk lebih jelas mengenal tentang etika, kita harus membedakannya dari moral. Moral dan etika adalah dua hal yang berbeda. Moral adalah suatu tindakan yang meliputi baik atau buruknya tindakan tersebut. Sedangkan etika menurut saya sendiri adalah  nilai yang terkandung dalam suatu hal tersebut, terlepas dari baik dan buruk, relatif dan subjektif, agama dan budaya, buka juga serangkaian larangan, bukan hanya sistem idea yang hanya berlaku secara teori tapi tidak bisa diterapkan, keputusannya bukanlah karena kehendak tuhan tetapi kehendak diri, dan etika bukanlah suatu sumber tambahan bagi ajaran moral, melainkan merupakan suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Etika adalah sebuah ilmu, bukan ajaran. Etika dan ajaran moral tidak berada dalam tingkat yang sama.
Sehingga menurut saya, yang mengatakan bagaimana kita harus hidup bukanlah etika, melainkan moral. Tetapi etika adalah mau mengerti mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral. Lalu apa gunanya etika itu? Jawabanya, tentu etika itu berguna, apalagi di zaman sekarang. Mengapa? Karena kita hidup dalam masyarakat yang pluralistik, berasal dari berbagai daerah, suku serta budaya yang berbeda-beda. Lalu kita juga hidup dalam masa yang begitu cepat berubah dan berkembang (tranformasi), seprti perubahan ekonomi, sosial, teknoligi dan berbagai macam lainnya yang dapat berubah dengan cepat. Dalam situasi tersebut etika membantu kita agar tidak kehilangan orientasi, membedakan apa yang hakiki dan apa yang boleh berubah, dengan begitu kita tetap bisa mengambil sikap-sikap yang dapat kita pertanggungjawabkan.
NB: Standar "Etika" Universal adalah keputusan yang memiliki alasan rasional dan justifikasi.
Referensi:
buku "Etika Dasar" (Franz Magnis - Sueseno)
catatan kuliah
diskusi bersama teman

Rabu, 10 September 2014

Apa itu "Ada"?


 
Saat beberapa orang diberikan pertanyaan, apa itu "ada"? sebagian orang mungkin malah akan bingung, lalu ada yang yang menjawab "ada ya ada, ya yang terlihat itu semuanya ada", ada yang memilih diam, tidak tau, dan mungkin sebagiannya lagi akan  pergi sambil mengerutu tentang pertanyaan itu. Pertanyaan apa itu "ada" adalah pertanyaan yang terdengar sangat sederhana sekaligus aneh bagi kebanyakan orang. Kebanyakan mungkin tidak ada yang peduli dengan hal itu. Namun bagi saya sendiri, hal sederhana seperti itulah yang malah merupakan inti dari suatu hal. Inti merupakan patokan terhadap sesuatu, maka jika kita tidak mengenal, mengerti, dan memahami inti dari suatu hal maka kedepannya sesuatu akan selalu salah untuk di kenal, dimengerti dan dipahami.
Apa itu "ada"? ada itu memiliki berbagai macam makna dan merupakan terjemahan dari bahasa inggirnya "exist, present, dan known". Contohnya ada exist itu seperti "bunga itu ada" lalu present "si Tikim ada di pasar" dan know "cinta itu ada". lalu apa "ada" itu lebih jelasnya? Menurut saya "ada" adalah segala sesuatu yang  terkonsep didalam mind. "ada" tidak perlu harus berbentuk fisik, dapat di indra, atau dirasa. Hanya dibicarakan atau dipikirkan saja hal itu sudah bisa dikatakan "ada". Karena ketika suatu mind membentuk konsep tentang suatu hal, maka hal itu "ada". Katakanlah seperti hal tentang cinta, lalu seseorang yang sedang galau bertanya kepada anda "apa cinta itu ada?" dan kebetulan sekali anda adalah orang yang galau juga, maka anda malah akan menjawab "entahlah.. saya juga bingung, mungkin cinta itu memang tidak ada". Dari kasus ini terlihat bahwa kedua orang itu salah dalam memahami suatu hal, karena bagaimana mungkin "cinta" itu tidak ada sedangkan mereka membicarakan cinta? Artinya cinta itu "ada". Lalu bagaimana dengan sesuatu yang memiliki bentuk fisik? Misalnya kulkas atau buku? Bukankah itu sudah pasti ada? Ya, benar. Kulkas dan buku memang ada, tapi bentuk fisik atau wujud dari kulkas atau buku itu yang sudah bisa di ukur, dilihat, dirasa itu disebut sebagai materi nyata. Jadi, "ada" adalah suatu konsep di dalam mind, "ada" belum tentu berbentuk materi nyata, tapi materi nyata sudah pasti ada.
lalu, jika "ada" adalah suatu konsep di dalam mind, apakah ada sesuatu yang tidak terkonsep didalam mind? Bagi saya jawabannya adalah "tidak" sekaligus "salah". karena masalahnya apa yang tidak terkonsep di dalam mind? segala sesuatu bisa terkonsep di dalam mind, justru yang sudah ada di dalam mind merupakan konsep. Maka pertanyaan itu salah. Dan pertanyaan yang benar adalah, apakah ada sesuatu yang belum terkonsep di dalam mind? Maka jawabannya "iya" tentu saja ada sesuatu yang belum terkonsep di dalam mind. Lalu bagaimana mungkin ada sesuatu yang belum terkonsep? Jawabannya gampang, yaitu karena kita belum memikirkan hal itu atau belum terpikirkan tentang hal itu. Misalnya, ada seseorang yang belum pernah pergi ke pulau Jawa, belum tau makanan orang jawa, belum tau bentuk kota jawa, dan secara tiba-tiba anda pergi ke pulau jawa dan makan di sebuah warung. Saat itu ada sebuah makanan yang isinya kacang panjang, timun, daun kemangi dan kol. Anda sebagai orang awam yang belum pernah melihat makanan seperti itu maka akan mengatakan itu adalah sayur-sayuran atau apalah mungkin, padahal nama sebenarnya adalah lalapan. Namun karena anda adalah orang awam maka anda belum tau nama itu, sehingga ketika di beri tau barulah anda tau kalo makanan yang terdiri dari timun dan lain-lainya itu adalah lalapan, maka secara otomatis terkonseplah di dalam mind dengan apa yang disebut sebagai lalapan. Lalu contoh satu lagi, ada sebuah kursi yang tiba-tiba saja bergerak dari lokasi "A" ke lokasi "B", maka bagi ilmuan akan beranggapan bahwa yang menyebabkan hal itu adalah getaran sedangkan dukun akan beranggapan bahwa yang menyebabkan hal itu adalah roh. Gampangnya, ilmuan memiliki konsep getaran tapi dia belum memikirkan tentang konsep roh, sedangkan dukun sebaliknya, punya konsep tentang sesuatu yang disebut roh, tetapi belum memikirkan tentang konsep getaran.
Terakhir sebagai penutup, ada satu hal yang sangat saya pahami tentang mengapa kita belum tau tapi ada yang sudah tau, mengapa kita bisa sebut itu fiksi dan nyata, mengapa ada bentuk dan tidak berbentuk, terlihat dan tidak terlihat, terasa dan tidak terasa, asli dan palsu hingga berbagai macam hal lainnya? Yang membedakan itu semua adalah jumlah informasinya.  
Referensi:
Quine "On What There Is"
Pemikiran sendiri
Diskusi bersama teman
Dan ceramah dosen di kelas Filsafat


Selasa, 02 September 2014

Yang Ku Cari

Aku sedang mencari...
Aku sedang berusaha untuk menemukan...
Aku belum menemukan apa yang aku cari...

Apa yang aku cari?
Berusaha menemukan yang ku cari!
Untuk dapat selamanya.

seseorang yang dapat merasakan kesedihan dibalik senyuman.
yang dapat mendengarkan kata-kata saat aku terdiam.
yang dapat merasakan cinta disaat aku marah.
Mungkin itulah yang aku cari.

Aku ingin berlari jauh, agar aku tau siapa yang akan datang kepada ku...
Aku ingin berbicara pelan, agar aku tau siapa yang mau mendengarku...
Aku menjerumuskan diri kedalam pertengkaran, agar aku tau siapa yang akan membela ku...
Aku akan mengambil keputusan yang salah, agar aku tau siapa yang akan menunjukan keputusan yang benar...
Aku mencoba melepaskan orang yang sangat aku cintai, agar aku tau akankah dia kembali kepada ku...
Aku berjalan jauh, untuk melihat siapa yang masih mengikuti...
Aku menangis, agar aku tau siapa yang akan menghapus air mata...

"Aku bersembunyi hanya untuk ditemukan"