Jumat, 16 Januari 2015

Metafisika (Konsep Realitas dan Univesalitas)

Nama : Dimas Rizky Akbary
NPM : 1306371400
Tugas : Metafisika (Konsep Realitas dan Univesalitas)
Realitas? Seperti pada kebanyakan orang ditanya tentang apa itu realitas maka jawaban terbaik mereka mungkin adalah seperti ini "realitas itu adalah kenyataan, hal yang terlihat, terjadi, tertempat, dan mungkin juga terwaktu". Tapi apa benar itu realitas? Bagaimana dengan sesuatu yang tidak kita lihat tetapi itu ada dan terjadi, Apakah itu juga disebut sebagai realitas?
Inilah masalah yang sering kita bingungkan, menurut saya problem pertamanya adalah si subjek yang merasa dirinya paling agung yaitu manusia. Manusia selalu merasa bahwa dirinya adalah sesuatu yang paling bisa, paling tau, paling terpercaya dan lain-lain. Padahal kenyataanya siapa yang tau? belum ada satupun hal yang bisa menjamin sesuatu itu adalah pasti. Manusia selalu menganggap ada yang pasti, ya jika itu dari pandangan manusia. Tapi apa cuman manusia yang hidup di dunia ini? Tentu saja tidak. Realita bukanlah suatu pandangan semata, realita adalah univesalitas itu sendiri. Realita bukanlah hanya sekedar karena adanya faktor ruang dan waktu, tetapi realita adalah ruang dan waktu itu sendiri.  
Jika kita bisa melihat dengan mata semua mahluk di dunia ini apakah kita sudah berarti dapat melihat realita? Jawabannya adalah belum. Realita juga bukan hanya sekedar pandangan dari subjek belaka, tapi juga objek. Lalu maksud sebenarnya realita itu adalah apa? Realita itu adalah "satu", satu dari seluruh keseluruhan dalam artian realita itu hanyalah ada satu. Apa itu? "The World" itulah realita. Dunia adalah realita yang sesungguhnya, tentu yang saya maksud dunia disini bukan sekedar dunia yang kita sebut bumi, dunia ghaib, dunia paraler, dunia robot, dunia langit dan dunia lain atau dunia binatang seperti nama sebuah salah satu acara televisi. Yang saya maksud lebih dari itu semua, tetapi dunia disini adalah suatu yang lebih abstrak.
Kita semua manusia boleh bilang kalo bumi itu bulat karena itu adalah pandangan kita terhadap bumi, tapi apakah benar bagi mahluk lain bumi itu bulat, seperti serangga, atau virus? Analoginya kira-kita seperti ini, Jika kita membawa virus itu keluar angkasa lalu kita suruh melihat bumi, apa dia akan melihat bumi itu bulat sebagaimana kita melihat juga? Jawabanya belum tentu dan siapa yang tau? Bisa jadi kalo si virus bisa bicara dia malah akan bilang kalo bumi itu panjang atau kotak atau apalah. lantas kalau begitu realitas tidak satu tetapi beragam? Jawabanya tidak, cara pandang mereka memang berbeda tetapi realitas mereka tetap satu yaitu bumi itu sendiri, mereka sama-sama tau kalo ada yang namanya bumi. Berarti realita hanya karena ada saja? Bagaimana yang tidak ada? Ya itu tetap realitasnya, kita tau kalo ada yang tidak terlihat, ada yang tidak ada, ada yang ada tapi tidak ada, itu tetaplah merupakan realitasnya. Adanya dunia yang tidak ada tetap saja kata-kata itu menunjukan bahwa realitanya satu yaitu "Dunia". Adanya yang tidak ada ya tetap saja itu menujukkan realita adanya sesuatu yang tidak ada entah itu sebuah konsep pemikiran, ada secara nyata atau tidak dan apaun itu, tetap saja itu menunjukkan kalo anda sedang membuat suatu bentuk realitas. Maka realitas itu tetap satu "The World"


Referensi :

Pemikiran saya sendiri
Obrolan bersama teman
ceramah dosen dalam kuliah

moral

Nama Dalam Kelompok : Ardian Bayuatmaja
                                         Dimas Rizky Akbary
                                         Mutia Agroli
                                         Adrian Ray
                                         Dianali Pitasari
Tugas : Review  Pemahaman Etika di Kelas Bu Gadis (bagian II)
Pembahasan kali ini adalah "moral", moral seperti yang kita tau adalah suatu tundakan yang mengacu pada baik atau buruknya tindakan tersebut. Moral berasal dari kata "mos/mores" (bahasa latin) yang artinya adalah kebiasaan. Jadi menurut kami, moral merupakan tingkahlaku yang kita perbuat sehari-hari, ada yang baik dan ada juga yang buruk, itulah moral.

Namun yang mau kami beri tau adalah pengertian moral dari beberapa para ahli, yaitu ada Robert C. Martimor, Arthur Schopenhauer, dan Kant. Tiga orang ini memiliki pandangan berbeda mengenai apa yang disebut dengan moral serta penjelasannya mengenai moral tersebut.

Pertama adalah penjelasan Moral menurut Robert, menurutnya moral adalah sesuatu yang berasal dari tuhan karena manusia yang baik adalah manusia yang mengikuti ajaran tuhan. Jadi apa itu moral ya moral adalah bagian dari tuhan, kalo kita berbuat baik maka kita sudah mengikuti aturan tuhan. Sepertinya Robert adalah orang yang sangan percaya dengan tuhan karena bagi dia, hidup harus berdasarkan dengan apa yang kita percaya. Menurut Robert ada beberapa pondasi agama yaitu : tuhan sebagai pencipta, apa yang benar adalah perintah tuhan, kitab sebagai manual cara hidup, menjalankan tutunan tuhan, dan tuhan adalah pelindung manusia.

Lalu ada Arthur schopenhauer, sebenarnya ia adalah yang sangat bertolak belakang dengan Robert, menurutnya moral adalah hasil dari akal sehat dan tindakan rasional bukan dari tuhan ataupun agama. Intinya Arthur sangat menolak dengan apa yang disebut moral sebagai sesuatu yang berasal dari tuhan. Namun dari info yang kami dapat ada beberapa anggapan bahawa Arthur menyatakan pada dasarnya manusia itu egois. Egoisme itulah yang melahirkan penderitaan. Untuk menghilangkan penderitaan itulah manusia harus melepaskan egoismenya, melepaskan diri dari kehendak, dan jalan moralitas adalah salah satu jalan pelepasan kehendak. Manusia harus melepaskan egoismenya dan menolong orang sebanyak yang dia mampu.

Lalu yang terkhir adalah Kant. Kant tidak menyinggung ataupun memihak kepada Robert atau Athur, melainkan ia membuat sendiri pendapatnya mengenai moral. Baginya moral adalah suatu kewajiban, manusia harus meyakini adanya validitas moral. Menurutnya orang baik bukan karena orang lain ataupun tuhan, tetapi orang baik karena akal sehat. Dan menurutnya, tindakan moral dilakukan bukan karena ada konsekuensi tetapi karena ada kewajiban. Kewajiban terhadap diri sendir dan kewajiban terhadap rang lain.

Sebenarnya, menurut kami moral itu sendir bukanlah suatu ajaran tuhan, suatu pemikiran rasional, ataupun kewajiban. Menurut kami moral adalah suatu tindakan yang dimana sifatnya adalah relatif yang artinya dinilai dalam ruang lingkup sosial, baik buruknya suatu moral ditentukan juga oleh ruang lingkup tersebut. Moral bukanlah suatu hal yag hakiki atau tetap, moral adalah bagaimana kita meletakkan diri dalam ruang lingkup, menjaga tindakan, dan memahaminya.

Referensi:
Diskusi Kelompok
Catatan kuliah

 





Perempuan, Laki – Laki & Robot (conciousness)

Nama   : Iqraa Runi Aprilia
NPM   : 1306371413

Perempuan, Laki – Laki & Robot (conciousness)
            Pada tugas kali ini saya akan membahas tiga perbedaan bentuk kesadaran pada laki – laki, perempuan dan juga robot, mengapa saya sebut perbedaan karena bentuk kesadaran pada laki – laki, perempuan dan juga robot memang berbeda bagi saya. Bagi saya walaupun perempuan dan laki – laki memiliki sebuah payung yang sama yakni ‘manusia’ bahwasanya perbedaan pada laki – laki dan perempuan juga ada pada kesadarannya, bagi saya laki – laki lebih condong memiliki kesadaran dengan segala urusannya dengan rasio sedangkan perempuan lebih condong kepada perasaan. Pada fase ini banyak pertentangan ketika saya bilang bahwa ‘perempuan memiliki kesadaran yang lebih condong kepada perasaan’ karena pasti kaum pemikir perempuan seperti feminis akan beranggapan bahwa saya sedang menjatuhkan martabat perempuan tetap bagi saya tidak karena sampai saat ini tidak ada tingkatan atas rasio maupun perasaan sehingga perempuan dapat dengan mudah masuk kepada akar kesadaran melalui perasaan. Berbeda dengan laki – laki yang kerap kali lebih condong menggunakan rasio sehingga kasarnya apapun yang dilakukan harus terlihat wajar dan tidak berlebihan.

            Kesadaran pada robot terutama yang ada di film menurut saya robot memiliki kesadaran karena proses berpikir, sampai saat ini saya sebenarnya percaya  bahwa  robot memiliki kesadaran atas dirinya sendiri, melalui proses berfikir yang diupayakan manusia melalui perkembangan IT maka terbentuklah kesadaran yang dihasilkan dari proses berpikir dimana bentuk usaha atas kesadaran buatan yang diupayakan menjadi kenyataan. Sehingga kerja kesadaran buatan mempengaruhi perasaan dan juga daya hidup atas suatu benda maupun mahkluk.  

Metafisika (membedakan laki-laki, perempuan, dan mesin dari problem kesadaran)

Nama : Dimas Rizky Akbary
NPM : 1306371400
Tugas : Metafisika (membedakan laki-laki, perempuan, dan mesin dari problem kesadaran)
Masalah yang saya bingungkan disini adalah apa yang dimaksud dengan kesadaran itu sendiri? Mengapa itu dikaitkan dengan mesin? Apakah mesin juga memiliki kesadaran? Jika punya maka hal yang dimaksud dengan kesadaran itu adalah suatu kumponen yang sangat sederhana menurut saya. Apa sebenranya yang membuat kesadaran? Dimana letaknya? Jika mesin juga punya kesadaran maka kesadaran itu pasti adalah suatu materi.
Kalo begitu, jika memang laki-laki, perempuan, dan mesin dapat dibedakan dari problem kesadaranya maka yang membedakannya itu adalah jumlah informasi dari kesadarannya. Menurut saya jumlah informasilah yang membedakan antara tiga hal ini. Jumlah informasi maksud saya disini bukanlah suatu hal yang hanya sekedar info-info atau kapasitas pengetahuan mereka, tapi lebih dari itu semua. Jumlah informasi disini bisa meliputi segala sesuatu seperti warnanya, partikelnya, panjang zatnya, banyak zatnya, faktor pendukungknya, dan berbagai macam hal lainnya.
Jumlah informasi bagi saya adalah suatu hal yang paling dominan dalam berbagai macam hal. Dia adalah komponen yang paling bisa membuat segala sesuatu menjadi apa saja. Jika dua hal memiliki jumlah informasi yang berbeda maka sudah dipastikan dua hal itu adalah suatu yang berbeda. Lalu bagaimana jika hal itu sama maka kedua hal itu pasti adalah suatu hal yang sama. Disinlah letaknya pointnya bagi saya, apa yang membuat laki-laki dan perempuan itu berbeda ya adalah jumlah informasi dari kesadaranya, dan apa yang membuat berbeda juga dari mesin juga adalah itu.

Referensi:

Pemikiran diri sendiri

Metafisik (Pemecahan kasus identitas kapal)

Nama : Dimas Rizky Akbar
NPM : 1306371400
Tugas : Metafisik (Pemecahan kasus identitas kapal)
Pembahsan kali ini mengenai suatu kasus identitas yang cukup rumit, ceritnay ada sebuah kapal. Kapal ini adalah kapal pak Jokowi yang berlabuh dari Tanjung Priok menuju ke Makasar yang ditempuh dengan waktu lima tahun. Kapal ini ceritanya terbuat dari kayu yang mudah sekali rusak apalagi jika terlalu lama terkena air laut, jadi setiap beberapa kali kapal ini selalu mengalami renovasi dalam perjalanannya. Pertama kayu bagian lambung kapal yang rusak, setelah direnovasi dengan kayu yang sama namun baru lalu kayu yang bekas tadi di buang ke laut. Besoknya kayu bagian bendera yang rusak, diganti lagi dengan kayu baru namun dengan jenis yang sama dan kayu yang lama tadi di buang lagi ke laut. Hingga begitu seterusnya sampai semua bagian dari kapal tersebut telah direnovasi, setelah lima tahun akhirnya kapal Jokowi yang telah melalui renovasi itu sampai juga di Makasar. Pertanyaanya, apakah itu benar kapal Jokowi?
Tanpa diketahui sebelumnya saat berlayar, ternyata ada beberapa orang yang mengikuti kapal Jokowi tersebut dari belakang sambil mengumpulkan puing-puing kayu bekas renovasi kapal Jokowi  yang dibuang kelaut. Dari sisa puig-puing kapal itu mereka buat sebuah kapal yang bentuknya sama persis dengan kapal pak Jokowi. Dan ternyata kapal tersebut juga sama-sama sampai di Makasar. Berarti ada dua kapal yang sama persis di Makasar saat itu. Pertanyaanya, mana kapal Jokowi yang asli?
Kemungkinan akan ada dua jawaban yang berasal dari orang-orang Makasar saat itu. Pertama suatu pihak akan mengatakan bahwa kapal yang datang bersama Jokowilah yang merupakan kapal asli Jokowi. Tapi satu pihak lainya mungkin akan menganggap bahwa kapal Jokowi yang asli justru adalah kapal yang berasal dari puing-puing itu, karena kapal yang datang bersama Jokowi adalah kapal yang telah mengalami renovasi dari seluruh bagian kapal, sehingga kapal tersebut bukan lagi sebagai kapal Jokowi, melainkan kapal yang berbeda dari yang dia bawa saat di Tanjung Priok.
Lalu bagaimana dengan jawaban saya? Mungkin agak sedikit aneh, tapi jawaban saya juga ada dua. Pertama, keduanya bisa jadi merupakan kapal Jokowi dikarenakan kesamaannya. Kedua, justru sebenarnya tidak ada kapal yang asli disana. Yang ada hanyalah kapal yang memiliki kesamaan bentuk dan ciri.


Jumat, 09 Januari 2015

pembahasan saya tentang Feminism

Feminisme? Pertama kali saya mendengar kata feminisme adalah ketika awal-awal kuliah saat melihat macam-macam nama mata kuliah di jurusan saya. Dari namanya feminisme berarti feminim kali ya pikir saya, mungkin hal ini lebih mengacu kepada perempuan. Sebenarnya saya sendiri tidak terlalu tertarik dengan feminisme, walaupun tau itu adalah salah satu mata kuliah yang nantinya akan saya pelajari. Saya belum pernah sekalipun mencari tau atau mencoba memikirkan apa itu feminisme sampai pada suatu ketika dosen saya Tommy di kelas  matak kuliah budaya menjelaskan sedikit hal tentang feminisme.
Menurutnya semua itu berasal dari gender, gender adalah konstuksi sosial. Laki-lakilah yang mengkonstruksi itu dikarena kebudaan patriarki. Hal ini desebabkan karena adanya "misogini" semacam kebencian laki-laki kepada perempuan karena di anggap sebagai sesuatu yang menjatuhkan diri mereka kedalam dosa. Dengan begitu perempuan di anggap sebagai objek pasif yang diam sedangkan laki-laki adalah sebagai subjek yang aktif, sehingga secara tanpa disadari perempuan itu terpasung oleh laki-laki, laki-lakilah yang membuat agar perempuan dapat terlihat seperti yang bagaimana laki-laki inginkan. Makanya dulu jarang sekali ada perempuan yang bermain bola, perempuan dilarang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan saja seperti memasak dam mebersihkan rumah. Nah, dari itu semua munculah apa yang disebut sebagai "feminisme" yang ingin melawan interpretasi yang menganggap perempuan selalu di belakang.
dari sini saya akan memberikan beberapa kasus tentang feminisme. Kasus pertama adalah kasus gerbong kerete khusus perempuan. Ada apa dengan gerbong kereta perempuan? Justru itulah masalahnya. Apa maksud dari gerbong khusus perempuan ini? Apakah ini sebuah upayah perlindungan terhadap perempuan? Atau malah merendahkan perempuan itu sendiri dengan arti bahwa perempuan itu lemah dan ingin dilindungi? Ketika hal itu ditanya kepada salah satu kaum feminis dia menganggap bahwa sebetulnya gerbong khusus perempuan itu malah merendahkan mereka sebagai perempuan, dia mengaku tidak pernah masuk kedalam gerbong khusus perempuan dengan alasan hal seperti itu malah justru menampilkan perbedaan, dimana sebagai feminism adalah ingin adanya kesetaraan bukan pembedaan seperti itu, bahkan terkadang didalam gerbong khusus prempuan itu sendiri masih terjadi konflik antara sesama perempuan. Lalu bagaimana dengan kasus ini, jika ada perempuan yang masuk ke gerbong kereta umum, lalu meminta kepada laki-laki untuk mengalah kepadanya untuk dapat duduk karena dia perempuan? Jawabannya gampang, mungkin dia tidak tau dangan feminism. Jika itu saya maka saya tidak akan pernah meminta untuk melakukan itu dan lebih memilih untuk berdiri.
tapi bagaimana jika kasusnya begini. Ada seorang yang mengaku sebagai feminism, dia sedang kuliah di salh satu perguruan tinggi dengan jurusan arsitek. Dia menganggap bahwa dirinya adalah seorang arsitek feminism dengan karya-karya arsiteknya yang lebih banyak menampilkan liukan, lengkungan yang menonjolkan sisih perempuannya. Dalam kasus ini saya merasa kalo dia malah justru membuat perbedaan antara suatu karya arsitektur. Bukankah dalam feminism seharusnya tidak ada pembedaan? Kenapa hasil karya artsitektur yang banyak liukan disebut sebagai feminism?  Bukankah laki-laki juga bisa membuat itu? Saya merasa aneh disini, feminism tidak ingin adanya perbedaan namun dia sendiri membuat pembedaan yang seakan-akan ingin dikhususkan? Padahal ketika kita khususkan, kita berikan apa yang dia mau, suatu ketika dia berpikir bahwa justru itu malah merendahkan mereka.
Satu kasus lagi yang berasal dari teman saya sendiri. Ketika saya menjelaskan tentang feminism kepadanya, seketika dia bertanya dengan sebuah pertanyaan simpel yang cukup menarik. "kim, jika kita para laki-laki yang membuat konstruksi dan membuat perempuan itu menjadi apa yang kita mau, lantas kenapa gue selalu di atur-atur oleh pacar gue? Gue kalo ke tempat dia selalu disuruh untuk memakai baju kemeja. Katanya cowok akan terlihat gagah kalo make baju kemeja. Gue jadi merasa kalo dialah yang mengkontrusi gue sehingga terlihat seperti apa yang dia mau." Mendengar itu saya hanya menjawab, ya itulah konstruksinya. Itu adalah hasil dari kontruksi yang mengkonstruksi. Saat kecil dia telah dikonstruksi oleh orang tuanya tentang bagaimana lingkungan sosial, bagaimana pakaina laki-laki dan pakaian perempuan, mungkin saja secara tidak disadari waktu kecil ia telah diberi tau kalo laki-laki yang gagah itu adalah yang memakai kemeja, dengan begitu sampai ia besar saat dia punya pacar, ia ingin kalo pacarnya juga terlihat gagah dengan menyuruhnya selalu memakai kemeja.

Dari semua itu saya mengira, jangan-jangan feminism itu sendiri adalah konstruksi. Kita mengkonstrusi perempuan dan perempuan yang tidak mau dikonstruksi membuat suatu konstruksi baru lagi disebut feminism yang mengkonstruksi dirinya sendiri?
terkadang saya sendiri merasa ada kemunafikan didalam feminism, seakan kalo ini gak mau dibedain tetapi pada dasarnya diri mereka itu memang berbeda. Teman saya pernah bilang kalo sebenarnya laki-laki dan perempuan itu berbeda dikarenakan ada semacam sel atau neuron didalm otaknya yang berbeda. Dari hal tu saya mempunya analogi bahwa sesungguhnya laki-laki dan perempuan itu ibarat sebuah timbangan antara 1kg batu dan 1kg kapas, dari cara pandang pihak ketiga mereka berdua memang terlihat seimbang karena memiliki berat yang sama namun pada dasarnya mereka berbeda itu sendiri berbeda karena yang satu batu dan yang satu lagi adalah kapas. saya sendir pada dasarnya tidak pernah mebeda-bedakan ataupun merendahkan derajat perempuan, kita sama-sama memiliki tangan, kaki, mata dan berbagai lainnya yang gunanya juga sama.  Ya kita memang sama tapi secara tidak langsung juga berbeda seperti menyusui dan melahirkan misalnya? Walaupun oke, jaman sekarang sudah canggih anggap saja laki-laki juga bisa melahirkan tapi pada dasarnya siapa? Tetap perempuankan? Saya disini tidak membedakan dan tidak juga mengkhususkan, saya lebih ingin menghargai satu sama lain, tidak peduli sama atau berbeda. Malah saya lebih merasa jika sebenarnya feminism inilah yang justru menghacurkan dan membuat konflik di antara keduanya. Pertanyaannya, jika feminism menolak perbedaan, mengapa malah membuat pembedaan itu sendiri (feminism)?

sedikit pembahasan kelompok mengenai feminsm

Kelompok 2 - “FEMINISME”
Astrila Ikhlasia                        Naufal Wibowo
Dimas Risky                            Margareth Wilson
Faishal Alrafi                          Muhammad Adinegoro
Frandy Antony                       Sindy
Iqraa Runi A

1.      Feminisme
            Teori mengenai feminis seringkali dideskripsikan sebagai analisis tekstual mengenai konstruksi, bayangan dan penelitian. Hal ini menyimpulkan bahwa perempuan akan memiliki reaksi dan pengalaman yang berbeda terhadap pria dan berusaha untuk mencapai atau mengonstruksi perpektif wanita untuk menghindari gender-bias dalam hasilnya. Hal ini juga bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana gender dapat mempengaruhi politik, sejarah bahkan literature yang tentu saja dihasilkan dari berbagai perspektif perempuan. Penelitian feminis adalah penelitian yang dilakukan oleh perempuan untuk mengidentifikasi feminis. Permasalahan feminis yang menyangkut ‘apa’, ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ adalah permasalahan feminis yang diteliti berdasarkan pengalaman perempuan di dalam paradigma patriarki.
Feminisme dikembangkan oleh perempuan, tetapi memiliki pengaruh terhadap kedua pihak, baik pihak pria maupun perempuan. Paradigma ini berusaha mengkritisi, mengevaluasi kembali, dan berusaha melakukan transformasi kedudukan perempuan dalam kebudayaan. Teori ini didasarkan dari asumsi bahwa organisasi sosial dan kebudayaan telah didominasi oleh pria yang mengesampingkan perempuan.
            Sebuah kepercayaan yang dimiliki oleh seluruh kaum feminis adalah adanya sebuah prasangka bahwa perempuan adalah kaum yang ditekan atau tertekan. Berdasarkan asumsi atau kepercayaan tersebut muncul sebuah permasalahan, bahwa terdapat sebuah perlakuan yang salah terhadap perempuan di dalam komunitas. Hal ini bukan ‘pengetahuan untuk dirinya sendiri’ melainkan pengetahuan yang dipergunakan untuk merubah dan meningkatkan kondisi dari kaum perempuan.
Perspektif feminis pertama kali berkembang sekitar tahun 1970 untuk melawan bias pria dalam formulasi, konsep, teori, bahkan metode dan interpretasi dalam berbagai hal. Terdapat beberapa teks pada tahun 1800an yang memperlihatkan pandangan kaum feminis, tetapi tidak pernah diperhatikan pada saat itu, baru pada tahun 1970, teks tersebut diperhatikan. Dasar dari teori feminism adalah untuk menemukan bukti mengenai sejarah dan kebudayaan yang tidak adil terhadap kaum perempuan untuk mendapatkan kedudukan perspektif matriarki yang mungkin telah hilang atau tidak pernah diperhatikan. Secara teoritikal, feminism bertujuan untuk menginterpretasi ulang pandangan patriarki yang seringkali mengandung pendapat yang bias terhadap kaum patriarki, menyediakan sebuah perspektif yang baru dan akurat dari perspektif perempuan.
Teori mengenai feminis tidak hanya satu, beberapa percobaan dilakukan untuk mengerti pandangan mengenai perempuan dan pandangannya mengenai sosial, ekonomi dan politik di dalam komunitas. Teori feminis telah mencoba untuk menantang objektivitas dalam komunitas ilmu pengetahuan.

Teori feminism secara besar dapat dikategorisasikan menjadi tiga (3), yaitu :
1.                  Teori yang bertujuan untuk menyediakan pandangan feminis dalam menginterpretasi ulang sejarah dan literature untuk menyediakan perspektif perempuan yang akurat. Hal ini juga berisikan mengenai posisi feminis yang dialami oleh kaum perempuan(sebagai kaum yang tertekan).
2.                  Teori yang memiliki focus yang lebih esensial dan biasa dikenal juga dengan feminisme prancis dan Feminisme Psychoanalitis. Teori ini memperluas teorinya hingga postmodernisme sebagai pengetahuan yang lokal dan kontekstual dari pada universal dan sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada kriteria untuk mengklaim sebuah kebenaran.
3.                  Teori yang focus terhadap perbedaan seksual dan politik, biasa disebut sebagai studi gender dan feminisme sosialis. Teori ini mencoba untuk melakukan reformasi, dari pada mengganti perspektif ilmu pengetahuan yang tradisional.
Teori-teori tersebut adalah teori feminism yang menolak kepercayaan bahwa perbedaan antara pria dan perempuan dikonstruksi melalui peradaban. Feminisme menganggap bahwa perbedaan ini muncul dari perbedaan sifat manusia. Kerjasama dan kompetisi, oleh karena itu tidak hanya nilai yang ditunjuk secara sosial terhadap pria dan wanita, tetapi nilai yang muncul secara fundamental mengenai perbedaan karakter akan kedua seks. Paradigma feminis mencoba untuk menantang ide tentang neutralitas di dalam penelitian ilmiah, bahwa pandangan individu dan pengalaman individu terbatas akan pengetahuan sang individu sehingga penelitian ilmiah tidak akan bersifat netral. Feminisme berguna untuk penelitian yang mengeksplorasi ilmu pengetahuan mengenai perempuan dan politik atau memperoleh sebuah pandangan baru mengenai pengalaman historis. Pandangan feminis akan ‘seks’ dan ‘jenis kelamin’ lebih menitikberatkan pandangannya terhadap pandangan sosial dari pada biologinya.
Metode feminis dapat diaplikasikan untuk menantang kebanyakan konsep sosial, terutama konsep yang bersifat netral, bahkan juga berguna dalam studi sosial, baik literature, sejarah, seni, kriminologi, mental bahkan studi alam seperti kesehatan, obat, aborsi, bahkan dalam konsep perang dan pendidikan sekalipun.
Feminisme berkembang setidaknya menjadi dua grup yang masing-masing memiliki klaim tertentu, yang satu adalah normative dan yang lain adalah deskriptif. Grup normative mengklaim bahwa perempuan seharusnya dipandang dan diperlakukan sebagai latar belakang konsep keadilan atau posisi moral yang lebih luas. Grup deskripsi mengklaim bahwa perempuan tidak diperlakukan sebagaimana standar keadilan atau moralitas yang telah dicetuskan oleh klaim normative. Klaim normative dan deskriptif bersama-sama menyediakan alasan untuk merubah keadaan, yaitu bahwa feminism tidak hanya sekedar bahan intelektual, namun juga gerakan politis.
Istilah 'feminisme' memiliki banyak kegunaan yang berbeda dan maknanya sering diperebutkan. Sebagai contoh, beberapa penulis menggunakan istilah 'feminisme' untuk merujuk ke sebuah gerakan politik historis tertentu di AS dan Eropa; penulis lain menggunakannya untuk merujuk pada keyakinan bahwa ada ketidakadilan terhadap perempuan, meskipun tidak ada konsensus pada daftar yang tepat dari ketidakadilan tersebut. Meskipun istilah "feminisme" memiliki sejarah, dalam bahasa Inggris terkait dengan aktivisme perempuan dari akhir abad ke-19 hingga saat ini, hal ini berguna untuk membedakan ide-ide feminis atau kepercayaan dari gerakan politik feminis, bahkan dalam periode di mana belum ada aktivisme politik yang signifikan sekitar subordinasi perempuan, orang telah peduli dengan teori dan keadilan bagi perempuan. Jadi akan masuk akal untuk bertanya apakah Plato adalah seorang feminis, mengingat pandangannya bahwa perempuan harus dilatih untuk memerintah (Republik, Buku V), meskipun ia adalah pengecualian dalam konteks historis. (Lih. misalnya, Tuana 1994.)
Pada pertengahan 1800-an istilah 'feminisme' lebih merujuk pada "kualitas perempuan", dan itu tidak sampai setelah Konferensi Internasional Pertama Perempuan di Paris pada tahun 1892 bahwa istilahféministeadalah istilah Perancis yang digunakan secara teratur dalam bahasa Inggris untuk kepercayaan dan advokasi kesetaraan hak bagi perempuan berdasarkan gagasan kesetaraan gender. Meskipun istilah "feminisme" dalam bahasa Inggris berakar pada mobilisasi untuk wanita dalam mempunyai hak pilih di Eropa dan Amerika Serikat pada akhir abad ke-20 ke-19 dan awal, upaya untuk mendapatkan keadilan bagi perempuan tidak dimulai atau diakhiri dengan periode aktivisme. Sehingga beberapa pihak telah menemukan bahwa hal itu berguna untuk memikirkan gerakan perempuan di Amerika Serikat sebagai sesuatu hal yang terjadi di "gelombang". Pada model gelombang, perjuangan untuk mencapai hak-hak politik dasar selama periode dari pertengahan abad ke-19 sampai bagian dari sembilan belas Perubahan tahun 1920 dianggap sebagai "Gelombang Pertama" feminisme. Feminisme berkurang antara dua perang dunia, yang akan "dihidupkan kembali" pada akhir 1960-an dan awal 1970-an sebagai "Gelombang Kedua" feminisme. Dalam gelombang kedua ini, feminis terdorong untuk melampaui pencarian awal untuk hak-hak politik dalam memperjuangkan kesetaraan yang lebih besar di seluruh papan, misalnya, dalam pendidikan, tempat kerja, dan di rumah. Transformasi yang lebih baru dari feminisme telah menghasilkan "Gelombang Ketiga". Gelombang Ketiga feminis sering mengkritik Gelombang Kedua feminisme karena kurangnya perhatian terhadap perbedaan antara perempuan karena ras, etnis, kelas, kebangsaan, agamadan menekankan "identitas" sebagai situs perjuangan gender.
Namun, beberapa tokoh feminis keberatan mengidentifikasi feminisme dengan saat-saat tertentu aktivisme politik, dengan alasan bahwa hal tersebut merupakan fakta bahwa telah terjadi perlawanan terhadap dominasi laki-laki yang harus dipertimbangkan "feminis" sepanjang sejarah dan lintas budaya: yaitu, feminisme tidak terbatas pada beberapa (Putih) perempuan di Barat selama abad terakhir ini. Selain itu, bahkan hanya mempertimbangkan upaya yang relatif baru untuk melawan dominasi laki-laki di Eropa dan Amerika Serikat, penekanan pada "Pertama" dan "Kedua" Gelombang feminisme mengabaikan perlawanan berkelanjutan untuk dominasi laki-laki antara tahun 1920-an dan 1960-an dan perlawanan luar politik mainstream, terutama oleh perempuan warna dan perempuan kelas pekerja (Cott 1987).
Salah satu strategi untuk memecahkan masalah ini adalah dengan mengidentifikasi feminisme dalam hal seperangkat ide atau keyakinan daripada partisipasi dalam gerakan politik tertentu. Seperti kita lihat di atas, hal ini juga memiliki keuntungan yang memungkinkan kita untuk menemukan feminis terisolasi yang karyanya tidak dipahami atau dihargai pada jaman itu. Tapi bagaimana caranya kita mengidentifikasi satu set inti keyakinan feminis? Ada yang menyarankan bahwa kita harus fokus pada ide-ide politik yang istilah ini tampaknya diciptakan untuk menciptakan komitmen untuk persamaan hak perempuan. Hal ini mengakui bahwa komitmen dan advokasi hak-hak perempuan belum terbatas Gerakan Pembebasan Perempuan di Barat. Tapi ini juga menimbulkan kontroversi, karena frame feminisme dalam pendekatan luas Liberal ke kehidupan politik dan ekonomi. Meskipun sebagian feminis mungkin akan setuju bahwa ada beberapa "hak" yang mencapai persamaan hak bagi perempuan adalah kondisi yang diperlukan feminisme untuk berhasil, sebagian besar juga berpendapat bahwa ini tidak akan cukup. Hal ini karena penindasan perempuan di bawah dominasi laki-laki jarang jika pernah terdiri hanya dalam merampas wanita politik dan hukum "hak", tetapi juga meluas ke dalam struktur masyarakat kita dan isi dari budaya kita, dan meresapi kesadaran kita (misalnya, Bartky 1990).
Apakah kemudian ada titik untuk menanyakan apakahfeminism itu? Mengingat kontroversi istilah dan politik circumscribing batas-batas gerakan sosial, kadang-kadang kita tergoda untuk berpikir bahwa yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah untuk mengartikulasikan satu set disjuncts yang menangkap berbagai keyakinan feminis. Namun, pada saat yang sama dapat baik secara intelektual maupun politis berharga untuk memiliki kerangka skema yang memungkinkan kita untuk memetakan (setidaknya beberapa poin) kami kesepakatan dan ketidaksepakatan. Kita akan mulai di sini dengan mempertimbangkan beberapa elemen dasar feminisme sebagai posisi politik atau set keyakinan. Untuk survei pendekatan filosofis yang berbeda dalam feminisme, lihat "Feminism, approaches to".

2.2 Komponen Normatif dan Deskriptif
Dalam banyak hal, feminisme memiliki dua bentuk klaim, yang pertama adalah normatif dan yang lainnya dalah deskriptif. Klaim normative mempertimbangkan bagaimana perempuan itu seharusnya (atau tidak seharusnya) untuk dipandang dan diperlakukan dan ditarik atas sebuah konsep latar belakang keadilan atau posisi moral; klaim deskriptif mempertimbangkan bagaimana perempuan itu, sebagaimana faktanya, dilihat dan diperlakukan, menuduh bahwa mereka tidak diperlakukan dengan standar kebenaran dan moralitas termasuk dalam klaim normative. Normatif dan deskriptif klaim, keduanya menyediakan alasan-alasan untuk bekerja dalam mengubah sesuatu; oleh karena itu, feminism bukan hanya sebuah pergerakan intelektual, tapi juga merupakan pergerakan politik.
Dalam pertimbangan ini, perempuan dan laki-laki seharusnya memiliki persamaan hak dan kehormatan adalah merupakan klaim normative; dan bahwa perempuan tidak diterima persamaan hak dan kehormatan dikenal sebagai klaim deskriptif. Klaim bahwa perempuan tidak diuntungkan dengan penghormatan terhadap hak dan penghormatan sendiri bukan merupakan sebuah klaim ‘deskriptif secara murni’ semenjak hal itu secara masuk akal mempengaruhi sebuah komponen evaluative. Bagaimanapun juga, poin kami di sini berangkat dari klaimbeberapa pertimbangan, yakni“apa kasusnya” bukan “apa yang seharusnya menjadi kasus.”
Penolakan terhadap feminisme bisa diperhatikan dengan memperhatikan klaim deskriptif dan normative, seperti misalnya, feminis membedakan pada apa yang akan diperhitungkan sebagai keadilan atau ketidakadilan bagi perempuan (apa ukuran sebagai ‘persamaan’, ‘tekanan’, ‘ketidakmampuan’, apa hak-hak yang seharusnya orang-orang terima?), dan ketidakadilan apa yang sebenarnya diderita oleh perempuan (aspek apa dari situasi perempuan sekarang ini yang dibilang membahayakan dan tidak adil?). Penolakan mungkin juga terdapat pada penjelasan tentang ketidakadilan: dua feminis mungkin sepakat bahwa perempuan secara tidak adil ditolak hak-hak dan kehormatannya dan secara substantive membedakan dalam perhitungan mereka mengenai bagaimana atau kenapa ketidakadilan terlihat dan apa yang dibutuhkan untuk mengakhirinya (Jaggar 1994).
Dalam usaha untuk menawarkan sebuah skema pertimbangan feminism, Susan James mengarakterisasikan feminism sebagai berikut:
Feminism is grounded on the belief that women are oppressed or disadvantaged by comparison with men, and that their oppression is in some way illegitimate or unjustified. Under the umbrella of this general characterization there are, however, many interpretations of women and their oppression, so that it is a mistake to think of feminism as a single philosophical doctrine, or as implying an agreed political program. (James 1998, 576)
James sepertinya di sini menggunakan pernyataan ‘opresi’ dan ‘ketidakmampuan’ sebagai tempat untuk perhitungan yang lebih substantive dari ketidakadilan (normative dan deskriptif) atas apa yang telah feminis tolak.
            Beberapa mungkin lebih mendefinisikan feminism dalam term dari sebuah klaim normative itu sendiri: feminis adalah mereka yang percaya bahwa perempuan ditakdirkan dalam persamaan hak, atau persamaan kehormatan, dan mereka yang tidak percaya bahwa perempuan pada dasarnya memang untuk diperlakukan secara tidak adil. Bagaimanapun juga, jika kita ingin mengadopsi terminology ini, hal ini akan menjadi lebih susah untuk mengidentifikasi beberapa sumber menarik dari ketidaksetujuan antara mereka yang mendukung dan tidak mendukung feminism, dan term ‘feminisme’ akan kehilangan banyak potensialnya untuk menyatukan mereka yang pertimbangan-pertimbangan serta komitment-komitmenya melebihi kepercayaan moral mereka menjadi interpretasi sosial dan afiliasi politik. Feminis bukanlah mereka yang diketahui memiliki prinsip dalam membela keadilan bagi perempuan; feminis mengambil bagian terhadap diri mereka sendiri untuk memiliki alasan dalam membawa perubahan sosial bagikehidupan perempuan.
2.3 Feminisme dan Keberagaman Perempuan
Untuk mempertimbangkan beberapa perbedaan strategi dalam merespon fenomena interseksionalitas, marilah kita kembali ke klaim skematik yang menyatakan bahwa perempuan ditekan dan tekanan ini salah atau tidak benar. Secara luas, seseorang mungkin mengarakterisasi tujuan dari feminism untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan. Tapi kita juga mengetahui bahwa perempuan ditekan bukan hanya dengan seksisme, tapi dalam banyak hal, seperti kelasisme, homophobia, rasisme, ageisme, ableisme dan lainnya, kemudian hal ini mungkin terlihat bahwa tujuan feminism adalah mengakhiri semua tekanan yang mempengaruhi perempuan, dan beberapa feminis mengadopsi interpretasi ini, (Ware 1970), dikutip dalam (Crow 200, 1).
Bagaimanapun juga, tidak semua setuju dengan sebuah definisi eskpansif dari feminism. Beberapa mungkin setuju bahwa feminis seharusnya bekerja untuk mengakhiri semua bentuk tekanan – tekanan itu tidak benar dan feminis, seperti kebanyakan orang, memiliki sebuah obligasi moral untuk melawan ketidakadilan – tanpa mempertahankan bahwa ini merupakan sebuah tugas dari feminism untuk mengakhiri semua tekanan. Beberapa mungkin bahkan percaya bahwa dalam menyukseskan tujuan feminism, sangat penting dalam memerangi rasisme dan eksploitasi ekonomi, tetapi pikirkan juga bahwa di sana terdapat sebuah tujuan feminis yang lebih sempit. Dengan kata lain, melawan tekanan yang terdapat dalam banyak bentuk mungkin sebuah instrument feminism, tetapi tidak intrinsic.
Bell Hook berargumen:Feminism, as liberation struggle, must exist apart from and as a part of the larger struggle to eradicate domination in all its forms. We must understand that patriarchal domination shares an ideological foundation with racism and other forms of group oppression, and that there is no hope that it can be eradicated while these systems remain intact. This knowledge should consistently inform the direction of feminist theory and practice. (hooks 1989, 22)even though it is currently (and virtually always) interlocked with other forms of oppression.
Pendekatan Hook tergantung pada klaim bahwa seksisme merupakan sebuah bentuk particular dari tekanan yang bisa dikenali dari bentuk-bentuk lainnya, seperti rasisme dan homophobia. Walaupun sekarang tujuan feminisme adalah untuk mengakhiri seksisme, karena relasi tersebut terhadap bentuk tekanan lainnya, walaupun hal ini akan membutuhkan usaha untuk mengakhiri bentuk tekanan lainnya juga. Sebagai contoh, feminis yang masih tergolong rasis tidak akan bisa sepenuhnya berapresiasi dampak luas dari seksisme dalam kehidupan perempuan yang memiliki kulit berwarna.Lebih jauh lagi karena institusi eksis juga, seperti rasis, kelasis dan homophobic, membongkar institusi seksis akan membutuhkan bentuk lain dari dominasi yang terjalin dengan mereka(Heldke and O'Connor 2004). Mengikuti pemikiran Hook, kita mungkin mengarakterisasi feminis secara skematik sebagai pandangan bahwa perempuan merupakan subjek terhadap tekanan seksis dan hal itu merupakan kesalahan. Pergerakan ini menggantikan titik berat penyelidikan kami dari sebuah karakterisasi terhadap apakah feminisme sebuah karakterisasi dari apa itu seksisme, atau tekanan seksis itu sendiri.
            Apa yang membuat sebuah bentuk particular dari tekanan seksis sepertinya tidak hanya membahayakan perempuan, tapi bahwa seseorang adalah subjek terhadap bentuk tekanan ini karena dia seorang perempuan. Tekanan rasial membahayakan perempuan, tapi tekanan rasial (oleh dirinya sendiri) tidak membahayakan mereka karena mereka perempuan, hal tersebut membahayakan mereka karena mereka adalah anggota dari sebuah ras particular. Sugesti bahwa tekanan seksis terkandung dalam tekanan yang kebenarannya tampil sebagai seorang perempuan menyediakan kita setidaknya awal dari sebuah alat analisa untuk membedakan struktur subordinat yang terjadi untuk mempengaruhi beberapa atau bahkan semua perempuan dari mereka yang lebih spesifik (Haslanger 2004). Akan tetapi permasalahan dan ketidakjelasan masih tersisa.
            Perhitungan sekarang mengenai tekanan didesain untuk membiarkan bahwa tekanan mengambil banyak forma, dan menolak untuk mengidentifikasi satu forma sebagai dasar lebih atau fundamental daripada sisanya. Sebagai contoh, Iris Young mendeskripsikan lima ‘wajah’ dari tekanan: eksploitasi, marginalisasi, ketidakkuasaan, imperialisme budaya dan kekerasan sistematis (Young 1990, Ch. 2). Yang lainnya, sebagai contoh, eksis atau rasi, akan memanifestasi hal itu sendiri dalam cara yang berbeda dan dalam konteks yang berbeda.
2.4 Feminisme sebagai Anti-Seksisme
Bagaimanapun juga, jika kita menggunakan sebuah strategi pluralis dalam memahami tekanan seksis, apa yang menyatukan semua instansi sebagai instansi dari seksisme? Kita tidak bisa mengasumsikan bahwa terdapat penjelasan pokok dari perbedaan cara hal tersebut dalam memanifestasi dirinya sendiri. Jadi, apakah kita dapat berbicara mengenai adanya sebuah penyatuan kasus-kasus sebagai sesuatu yang bisa kita sebut ‘tekanan seksis’?
            Bisa saja, sebagai contoh, bahwa salah satu tampil dalam kelompok karena satu rasa satu kelas atau satu seksualitas dansatu arena tampil menjadi target ketidakadilan. Tapi jika ketidakadilan mengambil sebuah forma yang dianggap sebagai hal yang tepat bagi perempuan, kemudian ketidakadilan itu seharusnya dimengerti secara interseksionalitas, sebagai sebuah respon terhadap sebuah kategori interseksional. Sebagai contoh, praktek pemerkosaanterhadap  perempuan Bosnia, bernama Paula, sebagai ketidakadilan interseksional.
            Tindakan manusia seringkali menjelaskan dengan kerangka yang dipekerjakan untuk membenarkan mereka, seks seseorang mungkin memainkan sebuah peran besar dalam mendeterminasi bagaimana satu diperlakukan karena latar belakang pemahaman sebagai apa penanganan yang cocok untuk distingsi individu di antara seks. Dengan kata lain, penyebab mekanisme sebagai seksisme sering dilempar melalui representasi problematika peran perempuan dan gender.
            Dalam setiap kasus, sebagai perempuan yang tertekan, disebutkan di atas, Paula menderita ketidakadilan, tapi sebuah factor krusial dalam menjelaskan ketidakadilan adalah bahwa Paula adalah seorang anggota dari sebuah anggota particular perempuan. Kami pikir hal ini menjadi krusial dalam pemahaman mengapa seksisme (dan rasisme, dan isme lainnya) terlalu sering dimengerti sebagai bagian dari tekanan. Tekanan adalah ketidakadilan yangmempertimbangkan kelompok; individual ditekan hanya karena mereka disubjekkan terhadap ketidakadilan. Dalam pandangan ini, untuk mengklaim bahwa perempuan sebagai perempuan yang menderita ketidakadilan adalah dengan mengklaim bahwa perempuan ditekan.
            Ke mana hal ini meninggalkan kita? Feminisme adalah sebuah jangkauan pandangan mengenai ketidakadilan terhadap perempuan. Di sana terdapat ketidaksetujuan atas feminis mengenai kealamiahan keadilan secara umum dan kealamiahan seksisme, dalam hal particular, hal-hal spesifik dari ketidakadilan atau penderitaan perempuan yang salah, dan kelompok yang seharusnya menjadi focus utama dari usaha feminis. Meski demikian, feminis berkomitmen untuk membawa perubahan sosial dalam mengakhiri ketidakadilan terhadap perempuan.
3. Topik dalam Feminisme: Ringkasan dari Sub-Entri Ensiklopedia
Adanya rangkaian untuk menimbang perbedaan forma dari feminisme, seharusnya lebih jelas bagaimana isu filosofis muncul dalam memperjelas secara detil dari posisi feminis. Komitmen filosofis yang paling radikal akan menjadi sebuah teori normative yang mengartikulasi sebuah perhitungan dari keadilan dan/atau sebuah perhitungan dari yang baik. Feminis menjadi terlibat dalam mengkritisi teori normative yang sudah ada dan mengartikulasi alternatif-alternatif untuk beberapa waktu sekarang. Sebuah survey dari beberapa pekerjaan ini dapat ditemukan di bawah ‘feminisme, intervensi’, dalam sub-entri terhadap ‘Filsafat Feminis Politik’, seperti, Liberal Feminisme, Feminisme Materialis dan Feminisme Radikal.
            Penjelasan feminis dari seksime dan perhitungan praktik seksis juga memunculkan isu yang berhubungan dengan wilayah penyelidikan filosofis tradisional. Sebagai contoh, dalam berpikir mengenai kepedulian, feminis memiliki pertanyaan yang ditanyakan mengenai kealamiahan diri sendiri; dalam berpikir mengenai gender, feminis memiliki pertanyaan apa hubungan antara yang alamiah dan yang sosial; dalam berpikir mengenai seksime dengan sains, feminis bertanya apa yang seharusnya diperhitungkan sebagai pengetahuan. Dalam kasus mainstream tersebut pertimbangan filosofis menyediakan alat yang berguna; dalam kasus lain, proposal alternatif sepertinya lebih menjanjikan.


Daftar Referensi:
Bowell, T. “Internet Encyclopedia of Philosophy”. 10 December 2014. http://www.iep.utm.edu/f em-stan/
Janack, Marianne. “Internet Encyclopedia of Philosophy”. 10 December 2014. http://www.iep.ut m.edu/fem-epis/
Langton, Rae. “Feminism in Philosophy”. 10 December 2014. http://web.mit.edu/langton/www/ pubs/FeminismInPhilosophy.pdf

Washington, Univ. “Feminist Philosophy”. 10 December 2104. http://www.phil.washington.edu/ specialization/feminist-philosophy