Senin, 23 Februari 2015

Filsafat Sosial (Review bahan bacaan "Social ontology" dari John R. Searle) versi 1

Nama: Fauzan Zahid Abiduloh
Tugas : Filsafat Sosial (Review bahan bacaan "Social ontology" dari John R. Searle)

Tulisan ini penulis rancang sebagai review pemikiran Searle dalam sebuah artikelnya berjudul Anthropological Theory. Artikel ini berisi pemikiran Searle terkait ontologi sosial. Ontologi sosial yang dikaji olehnya, berisi jaminan bagi ilmu-ilmu sosial untuk bekerja, dan berisi pemikirannya mengenai struktur logis sosial manusia yang ia kaji dalam sebuah kajian institusional ontologi yang ia sebut sebagai bagian dari kajian ontologi sosial dan pas untuk membedakan distingsi ontologi sosial manusia dengan species lainnya. Sebagai tambahan, artikel yang direview disini adalah pengembangan dari teori dalam bukunya yaitu The Construction of Social Reality, jadi untuk mengetahui tesis statementnya yang sangat orisinil bisa dibaca dalam buku tersebut.
1.      Jaminan bagi Ilmu Sosial
Searle berangkat dari keyakinan berupa adanya fakta-fakta sosial, seperti uang, sebuah tim sepakbola, suatu Negara, dan fakta-fakta sosial lainnya. Adanya fakta-fakta itu dapat kita verifikasi dengan mudah lewat fakta-fakta empiris, jadi tak ada alasan untuk memperdebatkannya. Yang menjadi menarik adalah, mengapa fakta-fakta itu dinamakan sebagai fakta sosial? Apa yang membedakannya dari fakta lainnya? Kita tahu bahwa matahari selalu terbit dari timur, kita tahu bahwa air jika dipanaskan akan menguap, dan kita juga tahu bahwa air jika didinginkan dalam suhu yang sangat rendah akan membeku, fakta-fakta semacam itu kita ketahui secara pasti adalah fakta-fakta yang begitu adanya, proses dari sebab ke akibatnya tidak bergantung pada seorang rational agent, yaitu manusia, Searle menyebut sebagai observer independent. Disamping itu, kita mengenal suatu fakta lainnya berupa suatu kertas bergambar Patimura dengan label Bank Indonesia yang kita ketahui  secara pasti adalah uang yang nilainya seribu rupiah. Apa yang membedakan keduanya? Jika dalam jenis fakta yang pertama tadi tidak ada campur tangan rational agent, maka dalam jenis fakta yang kedua tadi kita sadari adanya rational agent yang berperan dalam membebankan fungsi pada suatu kertas bernama uang dan menerimanya sebagai alat tukar dalam transaksi ekonomi, Searle menyebut jenis kedua ini sebagai observer relative. Jadi singkatnya kita dapat bedakan suatu fakta adalah fakta sosial dengan menanyakan apakah fakta itu terlepas dari rational agent atau tidak?
Kita sudah tahu bahwa berbagai macam penampakan yang exis secara independen dari rational agent adalah observer independent, sedangkan yang exis bergantung pada rational agent adalah observer relative. Tapi, dalam kenyataannya kehadiran kesadaran dan intensionalitas, fakultas-fakultas yang dimiliki manusia, denganya observer relative bekerja, pada dasarnya adalah fenomena observer independent; perilaku yang dimiliki para conscious agent bukan pada dirinya sebagai observer relative, melainkan observer independent, karna jika ia adalah observer relative bagaimana ada sebuah komunitas yang dapat memanipulasi kealamiahan manusia seperti kesadaran dan intensionalitas, bahkan dalam menjelaskan kesadaran itu sendiri para psikolog, fisioterapi, dan para filsuf masih diambang kebuntuan. Jadi dengan kata lain, eksistensi observer relative dihasilkan atau diciptakan oleh suatu set fenomena mental observer independent.
Bagi Searle, tak dapat dipungkiri, bahwa diskusi-diskusi seputar ontologi sosial klasik banyak berjasa pada pemikiran kita, seperti Max Weber, Georg Simmel, Emile Durkheim, dan Alfred Schutz, bahkan sebelum mereka seperti Hume, Rousseau, dan Adam Smith. Tapi mereka semua memiliki satu kesalahan yang sama, yaitu mereka mengatakan bahwa bahasa sebagai sesuatu yang terberi, sesuatu yang diandaikan begitu saja ada, lalu dengan begitu saja membahas tentang bagaimana terbentuknya sosial. Bagi Searle, kita tak akan dapat memahami apa yang sangat unik dari human society, dibandingkan dengan primata dan sejeinsnya, kecuali jika kita telah mengetahui terlebih dahulu apa yang special dari penampakan bahasa manusia. Jadi bagi Searle, kajian mengenai bahasa sangat dibutuhkan untuk membedah ontologi sosial, bukan hanya dari fungsi bahasa tersebut seperti Bourdieu yang mengatakan bahwa siapa yang menguasai dan dapat mengontrol linguistic categorizations memiliki kuasa atas sosial, bukan juga sepeti Habermas yang mengatakan bahwa ia berfungsi untuk mencapai rational agreement, tapi bagi Searle, kita harus temukan aturan-aturan konstitutifnya, atau dalam kata lain kita harus temukan basis basis- dan fungsi-fungsi fundamentalnya. Bahasan mengenai bahasa akan dibahas di bagian selanjutnya mengingat di bagian pertama ini kita akan menekankan pada jaminan Searle akan bekerjanya ilmu sosial.
Searle mengakui adanya pemilahan antara subjektifitas dan objektifitas, baginya ini jelas, namun akan menjadi ambigu bila diterapkan pada distingsi epistemic sense dan ontological sense. Contoh, statement seperti “Ayi lahir pada tahun 1945” kita kenali sebagai statement yang masuk dalam kategori pengetahuan objektif karna semua orang dapat tahu bahwa itu memang demikian, ini dapat dibedakan dengan statement “Ayi lebih Tampan dari Fristian” yang kita kenali kemudian sebagai sesuatu yang subjektif, dari sini kita dapat dengan jelas bedakan episteme objektif dan episteme subjektif. Sekarang mari kita lihat ontologi subjektif dan objektif, contoh, kita lihat ada pegunungan, hutan, lautan, binatang-binatang semuanya ada secara objektif karena ia independent dari kita, sedangkan kesedihan, kepedihan, kesenangan adalah contoh-contoh dari ontologi subjektif karena keberadaannya bergantung pada kita yang merasakan. Jika sebelumnya kita mengetahui ada yang dinamakan observer relativity yaitu fakta-fakta yang bergantung pada attitude dari rational agents, maka sekarang kita mengetahui adanya ontological subjectivity. Lalu apa kaitannya dengan epistemic sense? Ambilah sebuah contoh, uang bernilai seribu rupiah, yang sudah penulis singgung lebih dulu, adalah sesuatu yang dapat diketahui oleh semua orang secara objektif, namun keberadaan uang itu bernilai seribu dan berstatus sebagai alat tukar bukan karena uang itu sendiri secara fisik menunjukan demikian, tapi karna adanya human attitude yang bekerja dalam membuat aturan formal bahwa itu adalah alat tukar, dan attitude ini kita tahu adalah ontological subjectivity. Artinya apa? Ini menunjukan bahwa observer relativity memang menyebabkan ontological subjectivity, tapi ontological subjectivity tidak menghalangi pengetahuan objektif darinya, epistemic objectivity.
Poin terpenting dari diskusi soal episteme dan ontologi tadi, adalah adanya kesimpulan sah bahwa pengetahuan objektif tidak harus didapatkan dari ontological objectivity. Pentingnya apa? Dalam kajian mengenai ontologi sosial ini menjadi dalih yang sangat penting, setidaknya penulis menganggap demikian, karna apa yang esensial dalam sosial, tentu ini dari Searle, adalah elemen-elemen ontological subjectivity dan dengan demikian kajian ontologi sosial dapat dijamin kebenarannya. Jadi, dalam artian lain, jika tidak mungkin didapatkan pengetahuan objektif dari ontologi sosial, akan menjadi mustahil bagi ilmu sosial untuk bekerja.
2.      Struktur Logis Sosial
Lewat serangkaian jaminan tadi, kita bisa setidaknya mendapatkan basis yang menopang pembahasan selanjutnya terkiat ontologi sosial. Dengan landasan ini pula Searle melanjutkan bahasannya untuk cari struktur logis yang dapat digariskan bagi seluruh fenomena sosial manusia, ada satu goal yang ingin dicapai Searle adalah pembedaan yang jelas antara ontologi sosial manusia dengan hewan dimana ia membahas hal itu lewat institutional ontology sebagai divisi yang khas bagi manusia.
Untuk mengetahui gagasan Searle tentang human society kita perlu mengenal terlebih dahulu Thesis statementnya, yaitu bahwa ontologi sosial manusia mempunya sebuah struktur logis karena human attitude adalah hasil konstitutif realitas sosial dan attitude itu memiliki konten proposisional dengan relasi-relasi logis. Dari sini kita bisa menerka bahwa pemikiran Searle adalah pemikiran strukturalisme dimana human attitude dikonstitusi lewat serangkaian proposisi logis yang menjadi struktur dari sosial itu. Dengan demikian struktur logis yang ia tawarkan, ia jadikan sebuah indikator bagi suatu ontologi sosial apakah dia human society atau bukan. Tentu lewat Thesis Statemennya tadi ia mau buktikan bahwa dari serangkaian bentuk sosial manusia yang ada, yang kita tahu bahwa itu sangatlah beragam satu sama lain, punya satu garis incommon yang dapat menjustifikasi itu sebagai human society. Menurutnya perbedaan bentuk hanyalah perbedaan yang tampak dari permukaannya saja, bila kita selidiki hingga ke bagian di balik permukaan itu kita bisa temukan sebuah struktut logis yang simpel. Seperti sebuah analogi dari ilmu alam, adalah sangat berbeda jika kita melihat api unggun dengan sekop yang berkarat bukan? Yang satu adalah api yang menyala dari kayu bakar, sedangkan yang lainnya adalah logam yang berkarat, tapi dibalik fenomena yang nampak pada kita itu adalah suatu proses yang berasal dari suatu nalar simpel, yaitu adanya oksidasi. Begitu pun dengan sosial, fakta-fakta sosial yang kita temukan sangat berbeda antara uang seribu rupiah dengan sebuah tim sepakbola bernama Persib Bandung, tapi keduanya memiliki hal yang sama, yaitu adanya status function yang dihasilkan oleh collective intentionality lewat assignment of function.
Dalam human society yang dikaji lewat institusional reality sebagai divisi khas ontologi sosial manusia ada tiga komponen penting yang akan penulis coba ringkas disini, yaitu collective intentionality, assignment of function, dan constitutive rules and procedures. Collective intentionality adalah keterarahan mental state terhadap suatu objek, diarahkan, atau tentang sesuatu yang dibagi oleh beragam individu. Assignment of function adalah pembebanan fungsi kepada suatu objek, karena ia sifatnya dibebankan maka fungsi itu tidak dimiliki oleh objeknya secara intrinsik tapi dibebankan untuk kepentingan orang-orang yang terlibat dalam pembebenan secara kolektif. Terakhir, constitutive rules and procedures adalah aturan-aturan dan prosedur-prosedur yang dikonstitusi dan berlaku berkat adanya status function, dan status function itu sendiri dihasilkan oleh collective intentionality dan assignment of function.
Setiap manusia, bahkan mungkin spesies lainnya, memiliki kemampuan untuk bekerjasama, dan bertahan dalam kebersamaan itu sehingga dimungkinkan adanya pembagian attitude yang berbeda-beda dengan goal yang sama. Kemampuan ini tidak lain adalah collective intentionality, dan ini menjadi penting bagi teori-teori sosial berkat adanya kenyataan bahwa behavior dan attitude dalam suatu komunitas dapat berbeda-beda meski goalnya sama, contohnya adalah seperti memainkan gitar sebagai bagian dari memainkan sebuah band; artinya, saya  melakukan sesuatu sebagai bagian dari kita melakukan sesuatu. Dalam melakukan sesuatu sebagai bagian dari komunitas sosial melakukan sesuatu tentunya disertai pembagian fungsi yang dibebankan demi kepentingan keterarahan itu, oleh karena itu kita butuh fungsi-fungsi yang dibebankan pada setiap individu yang terlibat dalam collective intentionality tersebut, yaitu lewat assignment of function.  Assignment of function ini yang tentunya merupakan pembebanan yang dilakukan secara kolektif, menghasilkan status function. Apa itu status function? Adalah fungsi yang dihasilkan lewat pemberian status pada suatu objek, yang mana objek tersebut tidak secara intrinsik menunjukan statusnya, tapi status itu dikonstitusi oleh sosial lewat assignment of function. Oleh karena itu, statusku sebagai pemain gitar dibebankan oleh bandku, dan karenanya aku dibebani fungsi, untuk mencapai tujuan bersama yaitu memainkan band. Sejauh ini kita bisa lihat bahwa collective intentionality menyebabkan collective assignment of function.
Bagi Searle semua fungsi itu tidak ditunjukan secara intrinsik oleh objek yang memilikinya, tapi diberikan oleh sosial sehingga setiap fungsi adalah observer relative. Tentu kita bisa pertanyakan argumennya ini, tapi ia tak terlalu ambil pusing dengan ini, ia hanya mengatakan bahwa gagasa tentang function terdiri dari komponen-komponen normatif yang tidak ada dalam gagasan tentang causes, dengan kata lain fungsi bukan hanya penyebab suatu tujuan tapi ia juga melayani tujuan itu agar tercapai.
Lebih lanjut, Searle berupaya untuk memberikan sebuah gagasan kunci untuk membedakan manusia dengan spesies yang lainnya. Bagi manusia, objek yang dibebankan padanya status function bukan karena struktur fisiknya, tapi karena adanya collective intentionality yang membebankan sebuah status tertentu sehingga objek yang disematkan status itu dapat menjalankan fungsinya yang mana fungsi tersebut tidak dapat dilakukan tanpa adanya collective acceptance. Contoh kasus favorit Searle adalah uang, uang, tidak seperti pisau yang disematkan padanya fungsi untuk memotong karena struktur pisaunya yang menunjukan demikian, tidak secara mandiri menunjukan bahwa ia adalah alat tukar, tapi ia memiliki status sebagai alat tukar karena adanya collective acceptance. Sehingga disini, struktur fisik tidaklah relevan untuk menunjukan status fungsi dari sesuatu. Kasus yang menarik lagi adalah soal tembok pembatas Negara, pada awalnya tembok itu dibangun tinggi dan kokoh untuk menjaga setiap individu dari masig-masing masyarakat tetap didalam wilayahnya, dari sini kita tahu ada relevansi antara struktur fisik dan status function. Sekarang bayangkan jika waktu telah berlalu dan yang tersisa adalah puing-puing rapuh dari tembok itu, tapi karena adanya collective acceptance bahwa tembok itu memiliki fungsi untuk membatasi mereka, status function itu masih dimiliki oleh tembok pembatas tersebut, dari sini kita bisa lihat bahwa struktur fisik tidak lagi relevan bagi status function yang diterima ada dimiliki oleh tembok itu. Dari sini kita dapat pengetahuan soal apa yang membedakan antara human society dengan spesies lainnya, yaitu adanya penciptaan status function yang tidak lebih adalah hasil dari karya dan kekuatan institusi. Adanya fakta-fakta institusional yang membedakan realitas sosial manusia dengan realitas sosial lainnya.
Karena human society tidak dapat terlepas dari penciptaan status function, maka assignment of function sebagai penyematnya telah menjadi reguler dan karenannya menjadi aturan konstitutif yang berlaku, ia telah menjadi constitutive rules and procedures. Disini Searle mencoba untuk memberikan rumusannya, baginya rumus assignment of function yaitu X counts as Y in context C. Sesuatu sedemikian rupa dianggap sebagai uang bernilai seribu rupiah di Indonesia, Obama dianggap sebagai presiden Amerika Serikat, inilah contoh dari adanya sesuatu yang sedemikian rupa dianggap memiliki status dalam suatu kontek tertentu. Lebih jauh, untuk menjamin dengan formula ini dapat dibedakan realitas sosial manusia dengan spesies lainnya, Searle mengatakan bahwa rumusannya ini dapat berkembang lebih tinggi levelnya, artinnya kita tidak hanya memiliki satu fakta institusional tapi kita punya satu seri fakta-fakta institusional yang saling menjaga satu sama lain.
Apa pentingnya itu semua? Apa pentingnya status fungsi itu? status fungsi adalah motor yang menggerakan kekuatan sosial, karena dengan menerima status fungsi itu kita menerima serangkaian obligasi, hak-hak, tanggungjawab, dan hal lainnya, ini yang kemudian disebut sebagai deontic power. Bagi spesies selain manusia, tak dapat ditemukan adanya deontic power. Tapi apa pentingnya deontic power itu? deontic power ini memberikan alasan bagi manusia untuk berperilaku dalam sosial, untuk mengenal mana yang namanya kewajiban, hak, otoritasi, dan semacamnya. Sekilas kita bisa lihat bahwa ada teori etika deontology I. kant disini, tapi untuk mempertanyakan orisinilitas argumennya Searle bukan bahasan yang penting, karena poin pentingnya adalah bahwa dalam human society dapat ditemukan struktur deontis yang memungkinkan adanya desire-independent reasons untuk berperilaku. Ini lah yang tidak ditemukan dalam kerajaan hewan, dimana hewan tidak memiliki deontology.

Jadi mari kita ringkaskan, bahwa adanya status function, deontic power, dan desire-independent reason untuk berperilaku adalah elemen-elemen yang membedakan realitas sosial kita dengan spesies lainnya. 

Jumat, 16 Januari 2015

Teori plato tentang Kebudayaan versi saya

Menurut Plato budaya adalah "pembebasan jiwa"
sedangkan penjelasannya adalah menurut saya sendiri.
Langsung saja saya bahas tentang apa yang dimaksud dengan budaya menurut Plato adalah "Pembebasan Jiwa". Dari sini saya akan membahasanya satu persatu tentang apa yang dimaksud dengan pembebasan dan apa itu jiwa? Serta mengapa itu berhubungan dengan kebudayaan? Menurut pemikiran saya sendiri.
Pertama pembebasan, apasih yang dimaksud dengan pembebasan itu? Menurut saya pemebasan itu adalah membebaskan yang dimana kata yang utuhnya bersal dari bebas. Bebas itu sendiri menurut saya adalah "kosong" yang dimana tidak apa-apa dan tidak terbatas, seseorang pernah mengatakan kepada saya bahwa hari kita lahir adalah hari terakhir dimana kita merasakan kebebasan. Dari situ saya menganggap bahwa saat kita hidup dan mulai menjalani hari sesungguhnya kita tidak pernah bebas, bebas yang sesungguhnya adalah saat dimana kita belum dilahirkan. Namun beberapa orang menyangkal bahwa yang dimaksud dengan bebas adalah bebas memilih, mereka bilang bahwa ketika kita hidup kita bebas untuk memilih. Nah dari situ saya mencoba menanyakan kembali, jika bebas itu adalah pilihan maka bukannya justru karena ada pilihan itulah kita tidak bebas? Memilih dan dipilih? Dimana letak kebebasannya? Jikapun tidak memilih dan tidak dipilih tetap saja tidak ada kebebasan disana karena masih ada "milih" itu sendiri.  Jadi Menurut saya begini, yang dimaksud dengan kebebasan utuh itu adalah kosong yang tek terhingga dalam artian semua ada dalam kebebasan itu termasuk dengang pilihan, kemauan, keinginan, dan memilih sesungguhnya sudah ada dalam kebebasan itu sendiri. Jadi analoginya itu seperti ini agar dapat dipahami : pertama saat kita belum lahir, itu adalah saat dimana kita berada dalam kebebasan yang paling utuh karena kita sedang berada pada saat dimana semua bisa saja. Lalu kita lahir, itu adalah pilihan yang kita pilih dari kebebasan yang kita punya dan kita kehilangan memilih untuk tidak lahir tapi dari kelahiran itu kita memiliki kebebasan baru lagi untuk berkembang dalam kehidupan.  Setelah kita lahir dan berkembang, kita memiliki kebebasan untuk memilih tindakan apa yang kita inginkan selanjutnya, misalnya kita memilih untuk mempacari salah satu perempuan maka dengan begitu kita telah kehilangan kebebasan untuk mempacari atau mecari perempuan lain namun kita punya kebebasan baru lagi yaitu kita bebas atas pacar kita sendiri. Jadi kebebasan bukanlah pilihan tetapi kebebasan adalah kekosongan yang meliputi semuanya termasuk pilihan itu sendiri.
Lalu apa sih yang dimaksud dengan jiwa? Bagi saya ada dua anggapan tentang jiwa ini tergantung dari realitasnya. Pertama jika diketahui bahwa jiwa dapat dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain maka pastinya jiwa itu adalah materi sedangkan jika memang tidak dapat dipindahkan dari sutau tempat ke tempat lainya maka dapat dimungkinkan bahwa jiwa itu adalah "ide". Tetapi posisi saya disini adalah materialsm yang artinya saya lebih percaya bahwa jiwa adalah materi. Mengapa materi? Padahal realitanya, saya sendiri juga belum tau pasti dapat atau tidaknya suatu jiwa dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lainya. Bagi saya jika jiwa itu memang benar ada maka jiwa itu berada diseluruh bagian mahluk itu, bagaiman saya bisa yakin? Itu karena aura, karisma dan suara, serta hal lainya yag dipancarkan oleh mahluk itu. Aura yang keluar dan menghasilkan warna itu adalah hasil dari jiwa, karisma adalah pancaran dari jiwa dan suara itu sendiri adalah materi yang merupakan perpanjangan dari jiwa. Gampangnya jiwa itu adalah semacam suatu energi yang berada pada sekujur tubuh mahluk.  Dia adalah semacam zat halus yang menyebabkan adanya relasi dengan zat lain. Contoh gampangnya mungkin seperti ini. Jika seseorang sedang melihat lawan jenisnya lalu orang ini jatuh cinta lalu otaknya merespon disuatu bagian tertentu lalu dari otaknya merespon kesegala tubuhnya sehingga orang ini merasa senang nah maka peran jiwa disini adalah memancarkan kesenangannya ini sehingga saat orang ini bertemu dengan temannya maka terkadang temannya akan mengatakan "keliatanya kamu lagi senang nih" secara kasat mata orang itu bisa bilang senang karena melihat dengan indranya, padahal tanpa disadari itu secara gak langsung di akibatkan oleh jiwa yang dipancarakan dan jiwa yang menerima pancaran itu, secara tidak langsung zat mereka berdua saling berkontraksi menukar informasi.

Nah lalu di bagian terakhir saya akan menjelaskan hubungan kedua hal itu dengan budaya. Sebenarnya saya setuju dengan arti budaya adalah pembebasan jiwa menurut Plato, namun saya kurang setuju dengan penjelasannya karena saya sendiri juga tidak tau penjelasannya Plato tentang pembebasan jiwa itu sendiri. Jadi saya sendiri juga merasa seperti tidak setuju tanpa alasan yang jelas hehe... penjelasan dari saya adalah, budaya adalah usaha untuk membebaskan jiwanya dalam artian ketika suatu mahluk ingin mengembangkan dirinya, mengaspresiasikan, mengeksiskan dirinya, bagi saya itu sudah termasuk budaya. Budaya adalah semua hal dan bentuk upayah untuk membebaskan jiwanya dan memancarkan jiwanya. Dalam kasus yang saya bahas misalanya perempuan yang melepas kerudungnya, itu adalah suatu bentuk kalo jiwanya ingin lepas dari kerudung itu atau malah tanpa disadari saat dia memakai kerudung sesungguhnya dia merasa tidak bebas, tidak dapat mengekspor dirinya makanya dia lepas kerudungnya untuk membebaskan jiwanya yang selama ini terpendam oleh kerudung tersebut. Atau misalnya ditemukan bahwa ada perempuan berjilbab tetapi gaya bicaranya malah kasar, merokok, dan suka sex, mungkin tanpa disadari sebenarnya perempuan itu terkekang oleh keadaan sosial atau keluarganya sendiri dimana dia harus diwajibkan untuk berkerudung, padahal karena berkerudung itu dia malah merasa tidak nyaman dan tidak bebas, maka  hal-hal seperti berbicara kasar, merokok dan yang lainnya itu secara tidak langsung malah menjadi pelampiasan akibat dari ketidak bebasan jiwanya.  

Filsafat Ilmu (Positivisme Logis)

Nama : Dimas rizky Akbary
NPM : 1306371400
Tugas : Filsafat Ilmu (Positivisme Logis)
Untuk penjelasan "Positvisme Logis", kita harus tau dulu apa itu "Positivisme". "Positivisme" adalah sebuah paham yang berkembang di masyarakat Eropa pada awal abad ke-19 sampai ke-20. Positivisme itu sendiri sebenarnya adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika. Positivisme awalnya adalah sebuah filsafat yang menyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari.
Pemahaman Positivisme ini dicetuskan pada pertengahan abad ke-19 oleh salah seorang pendiri ilmu sosiologi yaitu "Auguste Comte". Ia percaya bahwa dalam alam pikiran manusia melewati tiga tahapan yaitu tahap teologis, tahap metafisis, dan tahap positivisme. Pertama tahap yaitu Teologis, Dalam tahap ini peristiwa-peristiwa dalam alam dijelaskan dengan istilah-istilah kehendak atau tingkah dewa-dewi. Dalam semua peristiwa alam diyakini bahwa ada kekuatan supranatural yang mengatur dan menyebabkan semua kejadian alam. Lalu yang kedua adalah tahap metafisik, Di tahap ini peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan melalui hukum-hukum umum tentang alam. Dikatakan juga sebagai modifikasi dari tahap Teologis, bedanya pada tahap ini kekuatan dewa-dewi diganti oleh entitas metafisik yang dianggap ada pada setiap benda.  Dan tahap yang ketiga adalah positivisme, ini merupakan tahap berpikir real, faktual dan nyata sebagai dasar pengetahuan, dalam tahap inilah semua peristiwa-peristiwa dijelaskan secara ilmiah. Comte berpendapat bahwa ini merupakan puncak dari tahap pemikiran manusia, ia mengartikan bahwa Positivisme sebagai segala sesuatu yang nyata, yang jelas, yang pasti dan bermanfaat.
Namun sayangnya pemahaman Positivisme ini dianggap mengandung beberapa kelemahan yaitu, Reduksi realitas pada fakta yang teramati telah menyingkirkan dimensi dan prefektif lain, dan memandang manusia hanya sebagai objek. Pandangan seperti itu tidak dapat dibenarkan. Lalu yang kedua, Positivisme tidak mengakui sifat kontigensi, relativitas dan historisitas (rasio) manusia. Lalu Positivisme juga tidak mampu menjelaskan keberagaman budaya dan keuinikan manusia seperti budaya lokal, etnis, agama, dan kultur. Karena itu Positivisme ditolak oleh pendukung Post-Positivisme dan Postmodernisme, serta dalam ilmu sosial-budaya, Positivisme banyak di kritik dan ditinggalkan. Lalu kepercayaan Positivisme ini bahwa ilmu pengetahuan akan membawa kepada kemajuan ternyata di sisi lain juga membawa pengaruh yang negatif seperti persaingan senjata/perang, kesenjangan antara negara kaya dan miskin, masalah ekologi dan lain-lain. Maalah ini juga merupakan kritik dari kaum Post-Positivisme terhadap Positivisme yang sangat mempercayai bahwa ilmu pengetahuan dapat menciptakan keadilan, kemakmuran dalam masyarakat modern. Ilmu pengetahuan dan teknologi memang bisa memberi kemudahan dan harapan bagi umat manusia, namun di sisi lain juga membawa dampak negatif (bersifat Ambivalen).

Sejak saat itu munculah dengan paham yang disebut "Postivisme Logis". Postivisme logis adalah suatu faham filsafat ilmu pengetahuan yang dimulai oleh Lingkaran Wina. Mereka menggabungkan beberapa aspek dari positivisne August Comte dan Ernest Mach dengan berapa aspek filsafat analitis. Terutama mereka terpengaruh oleh filsafat bahasa Wittgenstein. Lingkaran Wina merupakan sekumpulan ilmuan yang membahas mengenai ilmu pengetahuan. Positivisme Logis dipopulerkan di inggris oleh A.J. Ayers.  Beberapa tokoh filsafat analitik seperti Bertand Russel mulai mengemukakan istilah "Data Indrawi" sebagai suatu hal yang tidak dapat diragukan oleh semua aliran filsafat ilmu pengetahuan. Dia menolak Idealisme dengan menyatakan bahwa apa yang saya ketahui tidak dapat direduksi pada kesadaran saya mengenainya. Beberapa tokoh filsafat analitik menganggap bahwa idealisme itu bertentangan dengan akal sehat. Menurut mereka filsafat harus berpijak pada akal sehat dan alatnya adalah analisis. Dalam pandangan tokoh-tokoh positivisme logis atau fisafat analitik, pernyataan ilmiah harus disusun berdasarkan data indrawi, karena itu bahasa ilmiah dapat dianalisis benar tidaknya berdasarkan verifikasi faktual. Dalam pandangan mereka, hanya ada dua model bahasa yang rasional (bisa dibuktikan benar atau salah) yaitu kalimat atau proposisi analitis dan proposisi sintetis. Proposisi analitis adalah pernyataan logika dan matematika sedangkan sintetis berdasarkan fakta (pengalaman).
Tujuan dari Positivisme dan positivisme Logis sebenarnya adalah untuk menghancurkan filsafat dan metafisika, kecuali filsafat yang dapat menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan absolud. Positivisme membatasi bahsa ilmiah hanya pada dua hal yaitu bahasa faktual dan pernyataan logis matematis. Anehnya, kriteria tentang batas bahasa yang dikemukakan oleh tokoh positivisme logis itu sebenarnya bukan didasarkan oleh verifikasi empiris melainkan diterima begitu saja. Maka dari itu Sayangnya, Postivisme Logis memiliki kelemahan yang fatal. Ini disebabkan karena jika semua pernyataan yang tidak bisa diverifikasi tidak memiliki makna maka Positivisme Logis juga tidak memiliki makna karena pernyataan Positivisme Logis sendiri  sama sekali tidak bisa diverifikasi maka dari itu Positivisme Logis tidak bermakna.
Kesimpulannya, Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika. Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka dari itu sebenarnya tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Menurut saya suatu kebenara tetap bernilai benar meskipun tidak ada satu orangpun yang mempercayainya dan kesalahan tetaplah salah walaupun semua orang mempercayainya. Namun dalam ruang lingkup sosial hal itu sangat sulit berlaku karena disana  benar atau salahnya suatu hal tidak dapat benilai absolud atau universal, sesuatu dapat menjadi benar jika mayoritas ataupun pihak berkuasa saat itu menyatakan benar hal itu dan sesuatu bisa menjadi salah jika mayoritas dan pihak berkuasa menyatakan hal itu salah.


Referensi :
Buku Filsafat Ilmu - Dr. Akhyar Yusuf Lubis
www.philosophypages.com
catatan kuliah filsafat ilmu
pemikiran sendiri

Filsafat Ilmu sedikit pembahasan mengenai buku the grand design

Nama : Dimas Rizky Akbary
NPM : 1306371400
Tugas : Filsafat Ilmu
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas suatu buku yang berjudul "The Grand Design" yang di buat oleh Stephen Hawking. Pembahasan ini bertujuan untuk perbaikan nilai dalam mata kuliah filsafat ilmu. Dalam buku ini, singkatnya Stephen Hawkin sepertinya ingin menjelaskan tentang asal-usul jagad raya. Awal terbentuknya jagad raya dan bagaimana terbentuknya.
Bagi Stephen Hawking dalam M-Theorynya, jagat raya kita bukanlah satu-satunya jagat raya, melainkan ada banyak jagat raya yang diciptakan dari ketiadaan. Penciptaan banyak jagat raya tidak memerlukan intervensi suatu makhluk supernatural atau allah melainkan muncul dengan sendirinya dari hukum fisika, terprediksikan oleh sains.
Dalam buku ini yang membuat saya tertarik adalah ketika Stephen Hawking menjelasakan tentang "The Game of Life" ini bukanlah sebuah game tapi merupakan suatu hukum yang mengatur jagad raya. Hukum dalam game ini dijadikan sebgai contoh untuk menjelaskan tentang realita dan ciptaan. Dalam hukum ini, jagad raya dianggap sebagai papan catur yang melebar tanpa batas. Lalu ketika jagad raya ini mulai membentuk kondisi awal maka yang menentukan selanjutnya kedepan adalah hukum-hukum dalam jagad raya itu sendiri.
Namun pada bagian terakhirnya muncul pertanyaan, bagaimana seluruh jagat raya dapat diciptakan dari ketiadaan? Jawabannya tidak lain karena ada suatu hukum seperti gravitasi. Tetapi jawabany seperti itu malah terasa aneh bagi saya, bagaimana dengan benda-benda langit seperti bintang-bintang dan lubang-lubang hitam tidak mungkin itu muncul begitu saja dari ketiadaan. Tetapi bagi Stephen Hawking itu semua karena ada suatu hukum seperti gravitasi, jagat raya dapat ada dan akan menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan. Penciptaan spontan adalah alasan mengapa ada sesuatu ketimbang tidak ada apapun, mengapa jagat raya ada, dan mengapa kita ada.
Dari penjelasan tersebut saya masih merasa bingung, saya merasa masih ada sesuatu yang hilang atau tidak terjelaskan. Seperti bagaimana sesuatu keadaan yang disebut ketiadaan tiba-tiba bisa muncul hukum gravitasi? Apakah ini semua terjadi hanya karena kebetulan? Atau hanya karena kondisi dan keadaan yang mendukung maka secara tiba-tiba jadi? Benarkah kehidupan muncul dengan cara seperti itu? Saya merasa kalo ini agak absurd. Bagaimana mungkin suatu keadaan yang tidak ada apa-apa menjadi ada apa-apa dengan segala kekompleksannya.
Anggap saja begini, jika dari keadaan yang tenang dan seimbang seperti ketiadaan itu lalu secara tiba-tiba ada sentuhan lain yang mengacaukannya (garvitasi) maka dari mana asal sentuhan itu? Lalu setelah mereka berdua, baru munculah energi-energi baru. Lalu entah mungkin karena mereka saling berbenturan, bermutasi, atau bertransformasi. Saya tidak tau secara pasti tetapi banyak teori yang menyebutkan seperti itu namun faktanya belom pernah ada yang bisa membuktikannya kalo suatu energi seperti atom misalnya dapat bermutasi atau bertransformasi. Nah, singkatnya para energi ini ada berubah menjadi berbagai macam bentuk, salah satunya menjadi protein misalnya lalu protein berubah menjadi manusia. Masalahnya manusia ini adalah mahluk hidup, dia berpikir, dan dia dapat mengingat. Masalahnya bagaimana mungkin suatu energi atau zat bisa  melakukan itu? Dan yang paling parahnya lagi bagaimana dengan masalah kesadaran? Dari mana asalnya kesadaran manusia ini? Apakah mungkin sauatu energi dapat memunculkan kesadaran? Apakah jangan-jangan energi itu sendiri adalah pecahan dari kesadaran? Jika begitu maka pasti ada suatu kesadaran yang tingkatnya lebih tinggi lagi dari jagad raya ini sendir. Jika para energi yang jumlahnya sangat banyak itu mampu membuat manusia dan mahluk hidup lain, bukan tidak mungkin pastinya ada mahluk hidup lain di luar sana yang bisa jadi lebih hebat dari manusia.
Jika asumsi ini logis, lalu bagaimana dengan sesuatu yang menghasilkan energi ini tadi? Jangan-janga memang dari awal sudah ada yang memiliki kesadaran. Jika iya, maka mungkin saja ada kesadaran lain yang levelnya lebih tinggi karena bahan pembentuknya pasti lebih komplek. Lalu muncul lagi pertanyaan baru, dari mana datangnya sesuatu yang memiliki kesadaran luar biasa ini? Akan terus ada pertanyaan tentang sebab akibat. Maka dari itu tidak ada salahnya jika sebagian orang ada yang menganggap bahwa si energi paling awal dan kuat ini adalah Tuhan.
Jika begitu, bagi saya yang menganut paham pantheism dan jika memang yang menyebabkan semua ini adalah si energi itu maka energi itu sepertinya hanya melakukan transformasi dari dirinya sendiri. Bagaimana jika si ketiadaan itu sendirilah adalah energi itu lalu dia mentransformasikan dirinya yang seakan-akan seperti ada gaya dari luar lalu dari itu semua muncul atau menyebarlah energi-energi itu. Dan selanjutnya seperti yang tadi saya jelaskan, energi itu saling berkontraksi, bermutasi lalu berubah menjadi berbagai macam hal lainnya hingga jadilah manusia seperti kita sekarang ini. Maka analoginya seperti ini, jika kita mengambil air laut dengan ember dan membawanya ke rumah, apakah air di dalam ember tersebut tidak bisa dikatakan sebgai air laut lagi? Jika boleh maka tidak ada salahnya jika kita juga bisa menganggap bahwa diri kita sendiri adalah tuhan.
Maka bagi saya justru salah jika menganggap bahwa jagad raya ini tercipta dari ketiadaan karena sesungguhnya ketiadaan itu sendiri adalah energi itu. Jadi alam sebenarnya tidak pernah diciptakan tetapi hanya ditransformasikan dari enerji awal itu tadi. Semua ini adalah bagian darinya, dan bukanlah ciptaan dari siapapun.

Referensi :
Buku Stephen Hawking "The Grand Design"

Pemikiran sendiri

Filsafat Modern

Nama: Dimas Rizky Akbary
NPM: 1306371400
UTS: Filsafat Modern
Filsafat Modern adalah salah satu mata kuliah dalam jurusan filsafat, mata kuliah ini membahas tentang pandangan, metode, teori, serta pemikiran para filsuf pada masa abad modern. Kali ini saya akan membahas secara ringkas tentang Subjektivitas, Pengetahuan, Negara dan Realitas dari beberapa filsuf pada masa itu. Pembahasan ini dibuat dengan maksud untuk memenuhi ujian tengah semester.
·         Subjektivitas oleh Rene Descartes
Rene Descartes adalah seorang filsuf, matematikawan  Perancis dan penulis. Dia dijuluki "Bapak Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern".  Rene Descartes lahir  31 Maret 1596 di Prancis dari sebuah keluarga borjuis. Ketika ia berusia satu tahun, ibunya Jeanne Brochard meninggal. Ayahnya Joachim adalah anggota dari Parlement of Brittany di Rennes, Parlemen Inggris dan memiliki tanah yang cukup luas (borjuis). Ketika ayah Descartes meninggal dan menerima warisan ayahnya, ia menjual tanah warisan itu, dan menginvestasikan uangnya dengan pendapatan enam atau tujuh ribu franc per tahun.
Teori subjektivitas dari Descart adalah dualisme, dia menganggap bahwa mind dan body adalah dua hal yang berbeda, Descartes mengembangkan sebuah teori bahwa jiwa adalah imaterial, substansi non ekstensi yang terlibat dalam berbagai kegiatan seperti pemikiran rasional, khayalan, perasaan dan keinginan. Materi atau substansi ekstensi tunduk dalam hukum-hukum fisika dalam kerangka mekanistik dengan perkecualian tubuh manusia yang dipercaya. Descartes dipengaruhi oleh pikiran manusia dan mengakibatkan keadaan mental tertentu. Contohnya seperti tangan kita yang terpukul oleh palu pada jari menyebabkan rasa sakit di pikiran. Bagian dari teori Descartes yang bersifat dualistik inilah memunculkan permasalahan bagaimana interaksi sebab akibat diantara keduanya ini menjadi mungkin. Bagi Descart, dia mengklaim bahwa pikiran dan tubuh berinteraksi di glandula spienalis yang terletak di ruas tulang belakang.
·         Pengetahuan oleh Rene Decartes
Pada penjelasan pengetahuan, Menurut Rene Descartes pengetahuan adalah sesuatu yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Metode yang digunakannya adalah meragukan semua pengetahuan yang ada hingga ia mendapatkan kesimpulan bahwa ada tiga pengetahuan yang bisa diragukan, yaitu:
- Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi. Contohnya seperti kayu lurus yang dimasukkan ke dalam air maka akan kelihatan bengkok.
- Fakta umum tentang dunia seperti api itu panas dan benda yang berat akan jatuh.
- Prinsip-prinsip logika dan matematika. Ia menyatakan bagaimana jika ada seorang makhluk yang bisa memasukkan ilusi ke dalam pikiran kita, seperti di dunia matrix.
Menurut Decrates, eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi jika pikiran itu eksis. Sedangkan pikiran menurut Descartes adalah suatu benda berpikir yang bersifat mental, bukan bersifat fisik atau material.
·         Negara oleh Thomas Hobbes dan Jhon Locke
Thomas Hobbes adalah filsuf yang lahir di Inggris pada tahun 1588-1679. Dia adalah pemikir yang lahir pada masa perang. Dia memberikan sumbangan pemikiran yang sosial-politik. Ia menulis buku yang berjudul Leviathan yang menjelaskan pandangannya tentang kehidupan manusia didalam kodratnya yang bersifat "terpencil, miskin, kejam, dan memiliki sifat kebinatangan. Sedangkan Jhon Locke telah saya bahas latar belakanya pada bagian sebelumnya. Teori dari kedua tokoh ini mengasumsikan adanya keadaan alamiah yang terjadi sebelum manusia mengenal negara. Keadaan alamiah itu merupakan keadaan dimana manusia masih bebas, belum mengenal hukum dan masih memiliki hak asasi yang ada pada dirinya. Akan tetapi karena akibat pekembangan kehidupan yang menghasilkan kompleksitas kebutuhan maka manusia membutuhkan sebuah kehidupan bersama.  Dimana dibentuk berdasarkan perjanjian bersama untuk menyerahkan kedaulatan kepada sekelompok orang yang ditunjuk untuk mengatur kehidupan bersama tersebut.
Perbedaan antara Hobbes dan Locke adalah pada penyerahan hak dalam kontrak social. Menurut Hobbes masyarakat harus dengan mutlak menyerahkan seluruh haknya kepada pemerintah, sedangkan menurut Locke ada hak-hak yang tidak bisa diserahkan manusia kepada pemerintah yaitu life, liberty dan estate
·         Realitas oleh Jacques Rousseau.
Jean-Jacques Rousseau lahir 28 Juni 1712 di Jenewa, Swiss. Rousseau berpendapat bahwa manusia mempunyai keadaan alamiah atau keadaan asli dalam dirinya sebagai suatu individu yang bebas atau merdeka tanpa adanya suatu intervensi atau paksaan dari manapun. Meskipun manusia memiliki kebebasan tetapi mereka tidak menaklukkan sesamanya karena sifat alami manusia yang netral yaitu tidak baik dan tidak buruk.
Menurut Rousseau, manusia abad pencerahan sudah mengubah dirinya menjadi manusia rasional. manusia rasional hanya mementingkan factor material untuk memenuhi kebutuhan dirinya. factor-faktor non-materail berupa perasaan dan emosi mengalami pengikisan yang berakibat manusia seolah-olah hanya bergerak menurut rasionya saja. Abad Pencerahan menurut Rousseau adalah abad pesimisme total. Pemikir-pemikir pencerahan, perkembangan teknologi dan sains menyebabkan dekadensi moral dan budaya .Akibatnya, manusia menjadi rakus dan tamak sehingga terjadi kerusakan dan penghancuran besar-besaran bagi keberlangsungan manusia, baik itu alam maupun manusianya sendiri. Oleh sebab itu, Rousseau berpikir bahwa manusia seharusnya kembali pada kehidupannya yang alamiah yang memiliki emosi dan perasaan untuk mencegah dan terhindar dari kehancuran total. Pemikiran inilah yang menjadi cikal bakal dari aliran Romantisme yang berkembang di eropa.


Sumber:
Catatan Kuliah
Buku filsafat Ilmu (Dr. Akhyar Yusuf Lubis)
PPT Kuliah
Pemikiran Sendiri
http://kolom-biografi.blogspot.com

Metafisika (Konsep Realitas dan Univesalitas)

Nama : Dimas Rizky Akbary
NPM : 1306371400
Tugas : Metafisika (Konsep Realitas dan Univesalitas)
Realitas? Seperti pada kebanyakan orang ditanya tentang apa itu realitas maka jawaban terbaik mereka mungkin adalah seperti ini "realitas itu adalah kenyataan, hal yang terlihat, terjadi, tertempat, dan mungkin juga terwaktu". Tapi apa benar itu realitas? Bagaimana dengan sesuatu yang tidak kita lihat tetapi itu ada dan terjadi, Apakah itu juga disebut sebagai realitas?
Inilah masalah yang sering kita bingungkan, menurut saya problem pertamanya adalah si subjek yang merasa dirinya paling agung yaitu manusia. Manusia selalu merasa bahwa dirinya adalah sesuatu yang paling bisa, paling tau, paling terpercaya dan lain-lain. Padahal kenyataanya siapa yang tau? belum ada satupun hal yang bisa menjamin sesuatu itu adalah pasti. Manusia selalu menganggap ada yang pasti, ya jika itu dari pandangan manusia. Tapi apa cuman manusia yang hidup di dunia ini? Tentu saja tidak. Realita bukanlah suatu pandangan semata, realita adalah univesalitas itu sendiri. Realita bukanlah hanya sekedar karena adanya faktor ruang dan waktu, tetapi realita adalah ruang dan waktu itu sendiri.  
Jika kita bisa melihat dengan mata semua mahluk di dunia ini apakah kita sudah berarti dapat melihat realita? Jawabannya adalah belum. Realita juga bukan hanya sekedar pandangan dari subjek belaka, tapi juga objek. Lalu maksud sebenarnya realita itu adalah apa? Realita itu adalah "satu", satu dari seluruh keseluruhan dalam artian realita itu hanyalah ada satu. Apa itu? "The World" itulah realita. Dunia adalah realita yang sesungguhnya, tentu yang saya maksud dunia disini bukan sekedar dunia yang kita sebut bumi, dunia ghaib, dunia paraler, dunia robot, dunia langit dan dunia lain atau dunia binatang seperti nama sebuah salah satu acara televisi. Yang saya maksud lebih dari itu semua, tetapi dunia disini adalah suatu yang lebih abstrak.
Kita semua manusia boleh bilang kalo bumi itu bulat karena itu adalah pandangan kita terhadap bumi, tapi apakah benar bagi mahluk lain bumi itu bulat, seperti serangga, atau virus? Analoginya kira-kita seperti ini, Jika kita membawa virus itu keluar angkasa lalu kita suruh melihat bumi, apa dia akan melihat bumi itu bulat sebagaimana kita melihat juga? Jawabanya belum tentu dan siapa yang tau? Bisa jadi kalo si virus bisa bicara dia malah akan bilang kalo bumi itu panjang atau kotak atau apalah. lantas kalau begitu realitas tidak satu tetapi beragam? Jawabanya tidak, cara pandang mereka memang berbeda tetapi realitas mereka tetap satu yaitu bumi itu sendiri, mereka sama-sama tau kalo ada yang namanya bumi. Berarti realita hanya karena ada saja? Bagaimana yang tidak ada? Ya itu tetap realitasnya, kita tau kalo ada yang tidak terlihat, ada yang tidak ada, ada yang ada tapi tidak ada, itu tetaplah merupakan realitasnya. Adanya dunia yang tidak ada tetap saja kata-kata itu menunjukan bahwa realitanya satu yaitu "Dunia". Adanya yang tidak ada ya tetap saja itu menujukkan realita adanya sesuatu yang tidak ada entah itu sebuah konsep pemikiran, ada secara nyata atau tidak dan apaun itu, tetap saja itu menunjukkan kalo anda sedang membuat suatu bentuk realitas. Maka realitas itu tetap satu "The World"


Referensi :

Pemikiran saya sendiri
Obrolan bersama teman
ceramah dosen dalam kuliah

moral

Nama Dalam Kelompok : Ardian Bayuatmaja
                                         Dimas Rizky Akbary
                                         Mutia Agroli
                                         Adrian Ray
                                         Dianali Pitasari
Tugas : Review  Pemahaman Etika di Kelas Bu Gadis (bagian II)
Pembahasan kali ini adalah "moral", moral seperti yang kita tau adalah suatu tundakan yang mengacu pada baik atau buruknya tindakan tersebut. Moral berasal dari kata "mos/mores" (bahasa latin) yang artinya adalah kebiasaan. Jadi menurut kami, moral merupakan tingkahlaku yang kita perbuat sehari-hari, ada yang baik dan ada juga yang buruk, itulah moral.

Namun yang mau kami beri tau adalah pengertian moral dari beberapa para ahli, yaitu ada Robert C. Martimor, Arthur Schopenhauer, dan Kant. Tiga orang ini memiliki pandangan berbeda mengenai apa yang disebut dengan moral serta penjelasannya mengenai moral tersebut.

Pertama adalah penjelasan Moral menurut Robert, menurutnya moral adalah sesuatu yang berasal dari tuhan karena manusia yang baik adalah manusia yang mengikuti ajaran tuhan. Jadi apa itu moral ya moral adalah bagian dari tuhan, kalo kita berbuat baik maka kita sudah mengikuti aturan tuhan. Sepertinya Robert adalah orang yang sangan percaya dengan tuhan karena bagi dia, hidup harus berdasarkan dengan apa yang kita percaya. Menurut Robert ada beberapa pondasi agama yaitu : tuhan sebagai pencipta, apa yang benar adalah perintah tuhan, kitab sebagai manual cara hidup, menjalankan tutunan tuhan, dan tuhan adalah pelindung manusia.

Lalu ada Arthur schopenhauer, sebenarnya ia adalah yang sangat bertolak belakang dengan Robert, menurutnya moral adalah hasil dari akal sehat dan tindakan rasional bukan dari tuhan ataupun agama. Intinya Arthur sangat menolak dengan apa yang disebut moral sebagai sesuatu yang berasal dari tuhan. Namun dari info yang kami dapat ada beberapa anggapan bahawa Arthur menyatakan pada dasarnya manusia itu egois. Egoisme itulah yang melahirkan penderitaan. Untuk menghilangkan penderitaan itulah manusia harus melepaskan egoismenya, melepaskan diri dari kehendak, dan jalan moralitas adalah salah satu jalan pelepasan kehendak. Manusia harus melepaskan egoismenya dan menolong orang sebanyak yang dia mampu.

Lalu yang terkhir adalah Kant. Kant tidak menyinggung ataupun memihak kepada Robert atau Athur, melainkan ia membuat sendiri pendapatnya mengenai moral. Baginya moral adalah suatu kewajiban, manusia harus meyakini adanya validitas moral. Menurutnya orang baik bukan karena orang lain ataupun tuhan, tetapi orang baik karena akal sehat. Dan menurutnya, tindakan moral dilakukan bukan karena ada konsekuensi tetapi karena ada kewajiban. Kewajiban terhadap diri sendir dan kewajiban terhadap rang lain.

Sebenarnya, menurut kami moral itu sendir bukanlah suatu ajaran tuhan, suatu pemikiran rasional, ataupun kewajiban. Menurut kami moral adalah suatu tindakan yang dimana sifatnya adalah relatif yang artinya dinilai dalam ruang lingkup sosial, baik buruknya suatu moral ditentukan juga oleh ruang lingkup tersebut. Moral bukanlah suatu hal yag hakiki atau tetap, moral adalah bagaimana kita meletakkan diri dalam ruang lingkup, menjaga tindakan, dan memahaminya.

Referensi:
Diskusi Kelompok
Catatan kuliah