Jonathan Bennett
Bennett mempertanyakan
moral hati nurani dari
-
Huckleberry Finn (seseorang yang
menolong budak melarikan diri)
-
Heinrich Himmler (pemimpin nazi/officer
nazi)
-
Jonathan Edwards (Pendeta)
Moralitas : “a set of principles of action…”
Bad Morality (Moralitas Buruk)
: Moralitas yang prinsip-prinsipnya tidak saya setujui
Sympathy : rasa belas kasihan
-
Dapat mempengaruhi moralitas / tindakan kita
-
Dapat membuat kita keluar dari moralitas
Problem?
-
Setuju dengan moralitas buruk tetapi sulit untuk menjalankan
dan mengikutinya
-
Konflik batin antara moralitas buruk & simpati
1.
Konflik dalam
Huckleberry Finn,
Huck
membantu Jim temannya (budak) melarikan diri, pada saat itu budak dianggap atau
diperlakukan tidak seperti manusia dan membantu budak melarikan diri melanggar
moralitas pada zaman itu.
-
Huck meyakini bahwa menyerahkan Jim adalah tindakan yang
benar
-
Pada saat itu Huck mempunyai kesempatan untuk
mengembalikan/menyerahkan Jim kepada majikannya, tetapi Huck tidak melakukannya
-
Huck memiliki konflik batin pada dirinya
-
Huck merasa bersalah kepada majikannya Jim, Miss Watson,
yang mana Miss Watson orang yang baik, Huck merasa bersalah telah melakukan itu
kepada tetangganya.
-
Sympathy wins
over Bad Morality
2.
Konflik pada
Himmler,
Himmler adalah seorang komandan Nazi, mengikuti perintah nazi ( sebagai
kepatuhan pada hukum) dan mengesampingkan belas kasihan, tugasnya sebagai
komandan adalah menentukan siapa yang harus di bunuh & siapa yang masih
diberi kesempatan untuk hidup beberapa hari kedepan, dan di kemuadian hari ia
menderita penyakit dan juga merasa bersalah dengan kejadian saat itu, tapi ia
saat itu tidak dapat berbuat apa-apa selain mematuhi perintah dan hukum, karena
itu memang kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai komandan Nazi. Bad Morality wins over Sympathy
3.
Konflik Edwards
-
Tidak ada konflik pada Edwards karena ia tidak memiliki
belas kasihan (simpati)
-
Semuanya diserahkan kepada Tuhan karena jika melakukan
tindakan Bad Morality semuanya akan dimaafkan oleh Tuhan
Bennet menganggap Himmler lebih
dianggap bertanggung jawab dari pada Edwards karena tidak ada pergulatan batin
di dalam dirinya. God is acting justly
in damning sinners.
Observasi
Huck, Himmler dan Edwards tidak
dapat mengimajinasikan moralitas yang berbeda dari yang sudah ditetapkan. Huck
menolak moralitas buruk karena *simpati, Himmler menolak simpati karena moralitas buruk dan
Edwards tidak memiliki belas kasihan. * Tidak masuk dalam prinsip Kant
Kasus
Pernikahan beda agama di Indonesia
belum dapat diperbolehkan, lalu ada sepasang pasangan yang ingin menikah tetapi
tidak mendapat restu dari orang tua sang laki-laki dan akhirnya mereka
memutuskan untuk kabur dan menikah tanpa izin dari orang tua laki-laki, lalu
pertanyaannya adalah apakah bisa bad
morality itu berubah?
Kant
-No, it can't be happen until whenever, situasinya akan tetap seperti itu
Bennett
-Yes sure, itu dapat berubah karena adanya belas kasihan
Karena bisa saja setelah pasangan
kekasih itu menikah dan akhirnya memiliki anak, lalu sang laki-laki membawa
anak dan istri kembali kerumah orang tuanya (laki-laki) lalu sang ibu melihat
cucunya dan mulai menyayangi cucunya lalu ibu itu merestui hubungan ananknya, situasi/keadaan bisa berubah karena simpati.
Philip Hallie
-
The Evil That Men Think-And Do (1985)
-
Korban menjadi titik tolak dalam keputusan ethics
-
Problem Bennett its only in the mind
Kasus
Walus menipu oysters(kerang) untuk
dapat memakan kerang tersebut, Carpanter merasa ada yang salah pada cara Walus
tersebut karena menipu lalu memakan kerang tersebut, karena menurut Hallie,
jika dalam kasus tersebut dipakai pemikiran Bennet makan ia akan mengabaikan
posisi korban dan begitu juga halnya Hallie mengkritik pemikiran Hannah Arendt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar