Senin, 29 September 2014

Bad Morality and Sympathy

"sebelumnya saya ingin mengingatkan bahwa penjelasan pada bagian ini adalah hasil dari salah satu teman saya bernama Dianali Pitasari"



Jonathan Bennett
Bennett mempertanyakan moral hati nurani dari
-          Huckleberry Finn (seseorang yang menolong budak melarikan diri)
-          Heinrich Himmler (pemimpin nazi/officer nazi)
-          Jonathan Edwards (Pendeta) 

Moralitas        : “a set of principles of action…”
Bad Morality (Moralitas Buruk) : Moralitas yang prinsip-prinsipnya tidak saya setujui
Sympathy     : rasa belas kasihan
-          Dapat mempengaruhi moralitas / tindakan kita
-          Dapat membuat kita keluar dari moralitas


Problem?
-          Setuju dengan moralitas buruk tetapi sulit untuk menjalankan dan mengikutinya
-          Konflik batin antara moralitas buruk & simpati




1.     Konflik dalam Huckleberry Finn,

Huck membantu Jim temannya (budak) melarikan diri, pada saat itu budak dianggap atau diperlakukan tidak seperti manusia dan membantu budak melarikan diri melanggar moralitas pada zaman itu.

-          Huck meyakini bahwa menyerahkan Jim adalah tindakan yang benar
-          Pada saat itu Huck mempunyai kesempatan untuk mengembalikan/menyerahkan Jim kepada majikannya, tetapi Huck tidak melakukannya
-          Huck memiliki konflik batin pada dirinya
-          Huck merasa bersalah kepada majikannya Jim, Miss Watson, yang mana Miss Watson orang yang baik, Huck merasa bersalah telah melakukan itu kepada tetangganya.
-          Sympathy wins over Bad Morality



2.     Konflik pada Himmler,

Himmler adalah seorang komandan Nazi, mengikuti perintah nazi ( sebagai kepatuhan pada hukum) dan mengesampingkan belas kasihan, tugasnya sebagai komandan adalah menentukan siapa yang harus di bunuh & siapa yang masih diberi kesempatan untuk hidup beberapa hari kedepan, dan di kemuadian hari ia menderita penyakit dan juga merasa bersalah dengan kejadian saat itu, tapi ia saat itu tidak dapat berbuat apa-apa selain mematuhi perintah dan hukum, karena itu memang kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai komandan Nazi. Bad Morality wins over Sympathy


3.     Konflik Edwards

-          Tidak ada konflik pada Edwards karena ia tidak memiliki belas kasihan (simpati)
-          Semuanya diserahkan kepada Tuhan karena jika melakukan tindakan Bad Morality semuanya akan dimaafkan oleh Tuhan

Bennet menganggap Himmler lebih dianggap bertanggung jawab dari pada Edwards karena tidak ada pergulatan batin di dalam dirinya. God is acting justly in damning sinners.

Observasi
            Huck, Himmler dan Edwards tidak dapat mengimajinasikan moralitas yang berbeda dari yang sudah ditetapkan. Huck menolak moralitas buruk karena *simpati, Himmler menolak simpati karena moralitas buruk dan Edwards tidak memiliki belas kasihan. * Tidak masuk dalam prinsip Kant


Kasus
            Pernikahan beda agama di Indonesia belum dapat diperbolehkan, lalu ada sepasang pasangan yang ingin menikah tetapi tidak mendapat restu dari orang tua sang laki-laki dan akhirnya mereka memutuskan untuk kabur dan menikah tanpa izin dari orang tua laki-laki, lalu pertanyaannya adalah apakah bisa bad morality itu berubah?
Ini adalah jawaban dari prinsip Kant dan Bennett.

             Kant
-No, it can't be happen until whenever, situasinya akan tetap seperti itu
Bennett
-Yes sure, itu dapat berubah karena adanya belas kasihan
Karena bisa saja setelah pasangan kekasih itu menikah dan akhirnya memiliki anak, lalu sang laki-laki membawa anak dan istri kembali kerumah orang tuanya (laki-laki) lalu sang ibu melihat cucunya dan mulai menyayangi cucunya lalu ibu itu merestui hubungan ananknya, situasi/keadaan bisa berubah karena simpati.



Philip Hallie
-          The Evil That Men Think-And Do (1985)
-          Korban menjadi titik tolak dalam keputusan ethics
-          Problem Bennett its only in the mind

Kasus
            Walus menipu oysters(kerang) untuk dapat memakan kerang tersebut, Carpanter merasa ada yang salah pada cara Walus tersebut karena menipu lalu memakan kerang tersebut, karena menurut Hallie, jika dalam kasus tersebut dipakai pemikiran Bennet makan ia akan mengabaikan posisi korban dan begitu juga halnya Hallie mengkritik pemikiran Hannah Arendt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar