Relation
Between Reality and Universality
Oleh
Naufal Syahrin Wibowo
1306454510
Dalam kehidupan
sehari-hari, kita selalu melihat berbagai macam benda atau kejadian di sekitar
kita. Benda atau kejadian itu bermacam-macam. Bila itu benda, bisa berukuran
besar, sedang maupun kecil ataupun mikro bahkan nano sekalipun. Tidak hanya
itu, benda tersebut bisa saja bermerek ataupun tidak sama sekali, bisa berharga
atau justru hanya sampah belaka. Namun bila itu berupa kejadian, bisa berrarti
kejadian tersebut penting atau tidak penting, fakta tau fiksi atau bisa saja
bermacam-macam versi. Dalam hal ini, semua benda dan kejadian tersebut dapat
dikatakan realitas dalam kehidupan kita. Akan tetapi, relitas yang bisa saja
berbeda-beda tersebut, memilki sebuah kesatuan tunggal yang mungkin, dari
kesatuan tunggal itulah kita bisa menyatakan suatu realitas atau justru
sebaliknya. Kesatuan tunggal itu bersifat umum dan mungkin bisa disebut sebagai
universalitas. Tapi pertanyaannya adalah, apa sebenarnya realitas dan universalitas
itu? Adakah hubungan keduanya? Bila ada, lalu, bagaimana hubungan di antara
keduanya? Izinkan saya membahas, lbih tepatnya, mencoba untuk membahas tiga
pertanyaan tadi.
Ketika kita menggunakan indera kita, terutama indera
penglihatan, kita langsung dihadapkan dengan dunia yang sering kita sebut
realitas. Bagi saya, realitas merupakan sebuah kenyataan yang dapat dirasakan
oleh indera kita dan dapat dipersepsikan serta dipkirkan oleh akal kita.
Sedangkan universalitas merupakan sebuah bentuk umum atau kesatuan dari
berbagai kumpulan realitas yang telah ditangkap dan dipersepsikan oleh idera
kita serta telah dicerna oleh akal.
Dari penjelasan singkat mengenai realitas dan
universalitas di atas, sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya terdapat
hubungan di atara keduanya. Sifat atau bentuk hubungan keduanya mungkin masih
rancu, karena bila dipikirkan, mungkin saja universalitas dahulu, lalu
realitas, tetapi, bisa saja sebaliknya, kita berhadapan dulu dengan realitas,
lalu kemudian muncul konsep universalitas. Sebagai contoh, kita mempunyai
konsep alas kaki. Namun, konsep alas kaki ini kemudian menjadi rancu ketika
kita dihadapkan dengan realitas yang di mana, ketika kita melihat alas kaki
tersebut, kita melihat berbagai bentuk alas kaki bahkan berbagai warna dan
merek. Tetapi kita tahu, bahwa apapun bentuk, warna dan merek alas kaki
tersebut, mereka tetap satu dan universal dalam term ‘alas kaki’ yang dapat
didefinisikan sebagai alat pelindung kaki bagi manusia ketika hendak berpergian
atau beraktivitas.
Tapi kembali lagi ke problematika hubungan di antara
keduanya tadi yang masih rancu, walaupun terdapat konsep ‘alas kaki’ yang
universal, apakah mungkin konsep itu sudah muncul terlebih dahulu sebelum kita
melihat realitas mengenai alas kaki? Bagi para idealism, hal tersebut
dimungkinkan atau bahkan memang konsep ‘alas kaki’ terlebih dahulu, lalu
kemudian materi atau realitas berupa alas kaki yang muncul karena telah
terdapat konsep ‘alas kaki’ terlebih dahulu bahkan sebelum kita lahir dan mulai
memikirkannya. Sehingga, dapat dipastikan bahwa universalitas itu penyebab
munculnya dari sebuah realitas. Akan tetapi semua itu dibantah bagi mereka yang
menganut paham materialisme. Bagi mereka, kita tidak mungkin bisa membayangkan
konsep tanpa harus dihadapakan oleh materinya terlebih dahulu sehingga
memungkinkan bahwa term atau konsep ‘alas kaki’ merupakan akibat dari benda
atau materi dari alas kaki tersebut dan membuat hubungan realitas merupakan
penyebab terjadinya sebuah universalitas.
Kedua pandangan tersebut, bagi saya benar, karena dalam
cara pandang pertama, terdapat kebenaran koherensi yang secara logis, bisa
membenarkan bahwa tidak mungkin kita menyebut materi itu sebagai ‘alas kaki’
tanpa adanya terlebih dahulu konsep ‘alas kaki’ sebelumnya. Sedangkan cara
pandang kedua juga benar karena terdapat nilai kebenaran korespondensi yang di
mana kita harus menemukan dahulu materi yang disebut sebagai ‘alas kaki’ lalu
kemudian kita memunculkan konsep ‘alas kaki’ tersebut dan membahasakannya
sebagai sepatu, sandal, bakiak dan sejenisnya sesuai dengan bentuknya.
Jadi, sebenarnya realitas itu bermacam-macam adanya,
namun hal yang bermacam-macam itu dapat disatukan dalam satu konsep yang
bersifat umum yang bisa kita sebut dengan universalitas. Tetapi walaupun demikian,
hubungan keduanya masih belum jelas, apakah mungkin universalitas mendahului
realitas atau justru sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar