Minggu, 04 Januari 2015

Relation Between Reality and Universality Oleh Naufal Syahrin Wibowo 1306454510

Relation Between Reality and Universality
Oleh Naufal Syahrin Wibowo
1306454510
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu melihat berbagai macam benda atau kejadian di sekitar kita. Benda atau kejadian itu bermacam-macam. Bila itu benda, bisa berukuran besar, sedang maupun kecil ataupun mikro bahkan nano sekalipun. Tidak hanya itu, benda tersebut bisa saja bermerek ataupun tidak sama sekali, bisa berharga atau justru hanya sampah belaka. Namun bila itu berupa kejadian, bisa berrarti kejadian tersebut penting atau tidak penting, fakta tau fiksi atau bisa saja bermacam-macam versi. Dalam hal ini, semua benda dan kejadian tersebut dapat dikatakan realitas dalam kehidupan kita. Akan tetapi, relitas yang bisa saja berbeda-beda tersebut, memilki sebuah kesatuan tunggal yang mungkin, dari kesatuan tunggal itulah kita bisa menyatakan suatu realitas atau justru sebaliknya. Kesatuan tunggal itu bersifat umum dan mungkin bisa disebut sebagai universalitas. Tapi pertanyaannya adalah, apa sebenarnya realitas dan universalitas itu? Adakah hubungan keduanya? Bila ada, lalu, bagaimana hubungan di antara keduanya? Izinkan saya membahas, lbih tepatnya, mencoba untuk membahas tiga pertanyaan tadi.
            Ketika kita menggunakan indera kita, terutama indera penglihatan, kita langsung dihadapkan dengan dunia yang sering kita sebut realitas. Bagi saya, realitas merupakan sebuah kenyataan yang dapat dirasakan oleh indera kita dan dapat dipersepsikan serta dipkirkan oleh akal kita. Sedangkan universalitas merupakan sebuah bentuk umum atau kesatuan dari berbagai kumpulan realitas yang telah ditangkap dan dipersepsikan oleh idera kita serta telah dicerna oleh akal.
            Dari penjelasan singkat mengenai realitas dan universalitas di atas, sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya terdapat hubungan di atara keduanya. Sifat atau bentuk hubungan keduanya mungkin masih rancu, karena bila dipikirkan, mungkin saja universalitas dahulu, lalu realitas, tetapi, bisa saja sebaliknya, kita berhadapan dulu dengan realitas, lalu kemudian muncul konsep universalitas. Sebagai contoh, kita mempunyai konsep alas kaki. Namun, konsep alas kaki ini kemudian menjadi rancu ketika kita dihadapkan dengan realitas yang di mana, ketika kita melihat alas kaki tersebut, kita melihat berbagai bentuk alas kaki bahkan berbagai warna dan merek. Tetapi kita tahu, bahwa apapun bentuk, warna dan merek alas kaki tersebut, mereka tetap satu dan universal dalam term ‘alas kaki’ yang dapat didefinisikan sebagai alat pelindung kaki bagi manusia ketika hendak berpergian atau beraktivitas.
            Tapi kembali lagi ke problematika hubungan di antara keduanya tadi yang masih rancu, walaupun terdapat konsep ‘alas kaki’ yang universal, apakah mungkin konsep itu sudah muncul terlebih dahulu sebelum kita melihat realitas mengenai alas kaki? Bagi para idealism, hal tersebut dimungkinkan atau bahkan memang konsep ‘alas kaki’ terlebih dahulu, lalu kemudian materi atau realitas berupa alas kaki yang muncul karena telah terdapat konsep ‘alas kaki’ terlebih dahulu bahkan sebelum kita lahir dan mulai memikirkannya. Sehingga, dapat dipastikan bahwa universalitas itu penyebab munculnya dari sebuah realitas. Akan tetapi semua itu dibantah bagi mereka yang menganut paham materialisme. Bagi mereka, kita tidak mungkin bisa membayangkan konsep tanpa harus dihadapakan oleh materinya terlebih dahulu sehingga memungkinkan bahwa term atau konsep ‘alas kaki’ merupakan akibat dari benda atau materi dari alas kaki tersebut dan membuat hubungan realitas merupakan penyebab terjadinya sebuah universalitas.
            Kedua pandangan tersebut, bagi saya benar, karena dalam cara pandang pertama, terdapat kebenaran koherensi yang secara logis, bisa membenarkan bahwa tidak mungkin kita menyebut materi itu sebagai ‘alas kaki’ tanpa adanya terlebih dahulu konsep ‘alas kaki’ sebelumnya. Sedangkan cara pandang kedua juga benar karena terdapat nilai kebenaran korespondensi yang di mana kita harus menemukan dahulu materi yang disebut sebagai ‘alas kaki’ lalu kemudian kita memunculkan konsep ‘alas kaki’ tersebut dan membahasakannya sebagai sepatu, sandal, bakiak dan sejenisnya sesuai dengan bentuknya.

            Jadi, sebenarnya realitas itu bermacam-macam adanya, namun hal yang bermacam-macam itu dapat disatukan dalam satu konsep yang bersifat umum yang bisa kita sebut dengan universalitas. Tetapi walaupun demikian, hubungan keduanya masih belum jelas, apakah mungkin universalitas mendahului realitas atau justru sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar