Senin, 29 September 2014

Bad Morality and Sympathy

"sebelumnya saya ingin mengingatkan bahwa penjelasan pada bagian ini adalah hasil dari salah satu teman saya bernama Dianali Pitasari"



Jonathan Bennett
Bennett mempertanyakan moral hati nurani dari
-          Huckleberry Finn (seseorang yang menolong budak melarikan diri)
-          Heinrich Himmler (pemimpin nazi/officer nazi)
-          Jonathan Edwards (Pendeta) 

Moralitas        : “a set of principles of action…”
Bad Morality (Moralitas Buruk) : Moralitas yang prinsip-prinsipnya tidak saya setujui
Sympathy     : rasa belas kasihan
-          Dapat mempengaruhi moralitas / tindakan kita
-          Dapat membuat kita keluar dari moralitas


Problem?
-          Setuju dengan moralitas buruk tetapi sulit untuk menjalankan dan mengikutinya
-          Konflik batin antara moralitas buruk & simpati




1.     Konflik dalam Huckleberry Finn,

Huck membantu Jim temannya (budak) melarikan diri, pada saat itu budak dianggap atau diperlakukan tidak seperti manusia dan membantu budak melarikan diri melanggar moralitas pada zaman itu.

-          Huck meyakini bahwa menyerahkan Jim adalah tindakan yang benar
-          Pada saat itu Huck mempunyai kesempatan untuk mengembalikan/menyerahkan Jim kepada majikannya, tetapi Huck tidak melakukannya
-          Huck memiliki konflik batin pada dirinya
-          Huck merasa bersalah kepada majikannya Jim, Miss Watson, yang mana Miss Watson orang yang baik, Huck merasa bersalah telah melakukan itu kepada tetangganya.
-          Sympathy wins over Bad Morality



2.     Konflik pada Himmler,

Himmler adalah seorang komandan Nazi, mengikuti perintah nazi ( sebagai kepatuhan pada hukum) dan mengesampingkan belas kasihan, tugasnya sebagai komandan adalah menentukan siapa yang harus di bunuh & siapa yang masih diberi kesempatan untuk hidup beberapa hari kedepan, dan di kemuadian hari ia menderita penyakit dan juga merasa bersalah dengan kejadian saat itu, tapi ia saat itu tidak dapat berbuat apa-apa selain mematuhi perintah dan hukum, karena itu memang kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai komandan Nazi. Bad Morality wins over Sympathy


3.     Konflik Edwards

-          Tidak ada konflik pada Edwards karena ia tidak memiliki belas kasihan (simpati)
-          Semuanya diserahkan kepada Tuhan karena jika melakukan tindakan Bad Morality semuanya akan dimaafkan oleh Tuhan

Bennet menganggap Himmler lebih dianggap bertanggung jawab dari pada Edwards karena tidak ada pergulatan batin di dalam dirinya. God is acting justly in damning sinners.

Observasi
            Huck, Himmler dan Edwards tidak dapat mengimajinasikan moralitas yang berbeda dari yang sudah ditetapkan. Huck menolak moralitas buruk karena *simpati, Himmler menolak simpati karena moralitas buruk dan Edwards tidak memiliki belas kasihan. * Tidak masuk dalam prinsip Kant


Kasus
            Pernikahan beda agama di Indonesia belum dapat diperbolehkan, lalu ada sepasang pasangan yang ingin menikah tetapi tidak mendapat restu dari orang tua sang laki-laki dan akhirnya mereka memutuskan untuk kabur dan menikah tanpa izin dari orang tua laki-laki, lalu pertanyaannya adalah apakah bisa bad morality itu berubah?
Ini adalah jawaban dari prinsip Kant dan Bennett.

             Kant
-No, it can't be happen until whenever, situasinya akan tetap seperti itu
Bennett
-Yes sure, itu dapat berubah karena adanya belas kasihan
Karena bisa saja setelah pasangan kekasih itu menikah dan akhirnya memiliki anak, lalu sang laki-laki membawa anak dan istri kembali kerumah orang tuanya (laki-laki) lalu sang ibu melihat cucunya dan mulai menyayangi cucunya lalu ibu itu merestui hubungan ananknya, situasi/keadaan bisa berubah karena simpati.



Philip Hallie
-          The Evil That Men Think-And Do (1985)
-          Korban menjadi titik tolak dalam keputusan ethics
-          Problem Bennett its only in the mind

Kasus
            Walus menipu oysters(kerang) untuk dapat memakan kerang tersebut, Carpanter merasa ada yang salah pada cara Walus tersebut karena menipu lalu memakan kerang tersebut, karena menurut Hallie, jika dalam kasus tersebut dipakai pemikiran Bennet makan ia akan mengabaikan posisi korban dan begitu juga halnya Hallie mengkritik pemikiran Hannah Arendt.

Etika (Penjelasan dan Pemahaman Good and Evil)


Disini kami yang terdiri dari saya (Dimas Rizky Akbary), Adrian Bayuatmaja, Mutia Agroli, Adrian Ray, Dianali Pitasari dan Naufal Syahrin Wibowo adalah suatu kelompok dalam kelas Etika yang akan dibahas tentang tulisan Jonathan Bennett yang berjudul "The Conscience of Huckleberry Finn". Dalam bukunya Bennet menyatakan bahwa "Huck" mengalami pergolakan batin ketika dia membantu sang budak yang bernama "Jim" melarikan diri, Huck tau bahwa apa yang dia lakukan sebenarnya bertentangan dengan ajaran yang dia terima pada suatu waktu, mengenai bahwa budak itu bukanlah manusia sehingga dia tidak pantas untuk di tolong. Akan tetapi Huck tetap menolong Jim untuk melarikan diri karena merasa kasihan terhadap "Jim".
Disini dibahas juga mengenai tulisan Philip Hallie yang masih berkaitan juga dengan tulisan Jonathan Bennett tentang tindakan "Heinrich Himmler". Perbedaannya adalah Bennet lebih mekekankan kepada pergolakan batin yang terjadi di dalam diri Himmler ketika dia ingin menyeleksi siapa saja yang akan disiksa atau dibunuh pada hari itu. Sedangkan Hallie mengkritisi pemikiran Bennett bahwa seharusnya evil dilihat bukan dari pergolakan batin sang pelaku melainkan dilihat dari perjuangan korban.
Selain itu di sini kami juga akan membahas beberapa para filsuf lain yang terlibat dalam pembahasan problem "Good and Evil" serta argumen-argumen mereka mengenai etika dan moral seperti, Tzvetan Todorov, dan Anne Applebaum. Berikut adalah penjelasan singkat kami mengenai pembahasan mereka.
·                     "From Cruelty to Goodness" Philip Hallie

Philip Hallie (1922-1994) adalah seorang profesor filsafat di Universitas Wesleyan. Karya-karya yang doterbitkan termasuk The Paradox of Cruelty (1969), Lest Innocent Blood be Shed (1979), dan In The Eye of the Hurricane : Tales of good and evil, Help and Harm (2001)
Dalam bagian ini etika itu melibatkan aturan hukum dan cita-cita. Dalam hal ini mengikuti etika negatif agar menjadi layak untuk memiliki suatu hal yang bersih, namun pada dasarnya etika itu juga adalah sesuatu hal yang bersih. Etika juga berperan sebagai penjaga yakni sebagai cara agar aktif dalam kehidupan.
ada yang dinamakan sebagai paradox of cruelty (paradox kekejaman) menurut Philip hallie. Kekejaman sama dengan perwujudan partikularatas evil bukan topic central dan evil bukanlah sama dengan kekejaman. Mengapa lawan dari kekejaman itu bukan satu satunya kunci dari manusia secara historis? .Kebebasan antara relasi antar kekejaman ini menunjukan kekuasaan bukanlah pembahasan central dari filsif barat. Kabur dari kekejaman itu bukanlah urusan yang negative. Lawan dari kekejaman itu bukanlah positif karena kebaikan itu adalah hal yang positif bukan negative.

Berharap mencari kebenaran atas kebaikan dalam evil yang sangat central. Dia memulainya melihat dari dekat yang dinamakan ‘medical experiment” dari nazi Biasanya anak-anak yahudi dan gypsy didalam camp kematian. Disini adanya yang paling lemah diantara yang lemah tidak hanya mereka meremehkan minoritas melainkan mereka sebagai individu yang mash belum berumur. Dia berusaha untuk membuat teori objektif,  namun disaat itu juga dia memberikan jarak diantara para korban maka dia juga sama-sama menjadi monster yang kejam karena dia tidak bisa merasakan apa yang dirasakan para korban. 

Pencarian dari kejahatan konkret kekebaikan konkret. Apapun prinsip-prinsip moral mungkin berlaku untuk situasi partikular didalam cara berjalan bertentangan kedorongan perasaan partikular didalam situasi tertentu. Dia segera memperhatikan simpati dalam relasi antar bad morality.Tetapi bukan hanya karena konflik semacam itu menjadikan morality itu buruk.

·         "The Conscience of Huckleberry Finn" Jonathan Bennett

Jonathan Bennett (1930) adalah Professor "Emeritus of philosophy" di Universitas Syracuse. Dia adalah pengarang dari beberapa buku, termasuk Kant's Analytic (1966), Rationality:An Essay towards an Analysis (1989), A philosophical guide to conditionals (2003)
Bennett mempertimbangkan moral hati nurani dari Huckleberry Finn, Himmler dan Edwards. Moralitas buruk adalah prinsip moralitas yang saya sangat tidak setujui. Rasa belas kasihan terhadap seseorang mungkin akan membawa kita untuk membantu seseorang tersebut. Sangat jelas perasaan can impel one to action and so can moral judgement, dan dalam particular kasus belas kasihan(simpati) dan moralitas mungkin menarik ke dalam arah/tujuan yang berlawanan. Huck Finn membantu Jim temannya (budak) untuk melarikan diri dari Miss Watson majikannya, Huck merasa kasihan kepada Jim karena manusia tidak selayaknya diperlakukan seperti itu dan manusia tidak selayaknya dimiliki seperti hewan peliharaan seperti itu, pada saat itu juga Huck memiliki kesempatan untuk mengembalikan Jim kepada majikannya tetapi Huck tidak melakukan itu karena rasa simpatinya mengalahkan bad morality, Huck tidak memiliki kekuatan untuk melakukan apa yang ia yakini harus lakukan (menyerahkan Jim kembali). Lalu Huck membiarkan Jim untuk kabur. Huck menderita memikirkan apa yang sudah ia lakukan, ia berfikir “apa yang sudah Nyonya Watson lakukan kepadaku?” sehingga ia tega membantu budaknya Nyonya Watson untuk melarika diri, “ini karena aku tidak berfikir dengan jernih”. Huck hanya gagal untuk melakukan sesuatu yang ia percayai untuk menajadi benar, ia tidak cukup kuat. This passage in the novel is notable not just for its finely wrought irony, with Huck’s weakness of will leading him to do the right thing, but also for its masterly handling of the difference between general moral principles and particular unreasoned emotional pulss.
            Mempertimbangkan kasus lain dari moralitas buruk dalam konflik belas kasihan manusia, kasus dari Himmler komandan Nazi, yang setiap harinya harus menentukan siapa saja orang-orang yahudi yang harus di eksekusi dan siapa saja yang masih bisa hidup untuk beberapa hari kedepan dan Himmler melihat tugasnya akan menjadi berat untuk dilaksanakan sementara ia masih mengingat tentang belas kasihan(simpati). Ia mengatakan hanya kelemahan yang mengambil jalan keluar dengan mudahnya dan hanya memikirkan tentang rasa belas kasihannya. Ia tahu kalau ini akan membuat orang yahudi menderita lantas itu tidak membuat Himmler mengikuti rasa belas kasihannya karena ini adalah tugasnya sebagai komandan dan ia tidak bisa mengelak dari tugasnya, bad morality wins over sympathy.
            Lantas bukan berarti ia melakukan semua tugasnya dengan mudah dan tanpa berat hati, Himmler menanggung beban berat setelah itu dan bahkan membayar dengan harga untuk itu. He suffered a variety of nervous and physical disabilities, including nausea and stomach convulsions. Ia menderita disisa hidupnya.
            Bersama dengan brutes dan karir yang kejam, pasti ada seseorang yang perduli dan seseorang yang menderita dari konflik antara rasa belas kasihan mereka dan moralitas buruk mereka. Kemungkinan lain adalah konflik mungkin dihindari dengan cara menyerah atau bahkan tidak pernah memiliki rasa belas kasihan tersebut, ini adalah kasus dari Edwards seorang pendeta. Edwards tidak memiliki rasa belas kasihan karena ia berfikir bahwa Tuhan akan mengampuni segala bad morality dan juga akan membalasnya atau member hukuman,jadi Edwadrs hanya percaya dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan tanpa memiliki rasa belas kasihan di dalam dirinya sendiri dan Bennett mengganggap Edwards lebih buruk dari Himmler karena Edwards tidak memiliki konflik batin di dalam dirinya sendiri. God is acting justly in damning sinners.
·         "The Central Role of the Victim" Philip Hallie

Dalam bagian ini sebenarnya Philip Hallie melakukan kritikan terhadap Bennet. Ia menganggap bahwa dalam cerita "The Conscience of Huckleberry Finn" adalah suatu tindakan yang tidak memperdulikan peran korban. Menurutnya korban menjadi titik tolak dalam mengambil keputusan yang etik. Dalam bukunya yang berjudul " Alicie's Adventures in Wonderland" menceritakan ada seekor Walrus dan seorang tukang kayu yang melakukan sebuah perjalanan atau mungkin petualangan. Dalam perjalanannya ada suatu peristiwa  dimana Walrus ini menghasut atau menipu beberapa kerang untuk ikut dengannya. Namun suatu saat ketika para kerang itu tertipu dan mengikuti, walrus itu malah memakan para kerang itu tanpa merasa bersalah. Di bagian ini tukang kayu yang melihat hal tersebut merasa ada yang salah dengan tindakan walrus dimana dia harus menipu para kerang-kerang itu lalu tampa rasa bersalah memakan mereka. Dari situ dapat dikatakan bahwa tindakan walrus adalah tindakan yang tidak memperdulikan peran korban.

·         Where Eichmann's Evil Lay

Dalam bukunya, Phillip Hallie menerangkan mengenai apa itu good and evil. Dalam menerangkan dua hal tersebut, Phillip mengambil beberapa contoh yang sebelumnya pernah diberikan oleh dua orang filsuf etika yang bernama Hannah Arendt dan Bernett. Sebenarnya, dalam bukunya, Phillip mengkritisi pemikiran dan analogi yang diberikan oleh dua orang filsuf tersebut mengenai good and evil. Phillip mengkritisi Hannah Arendt mengenai sikap Adolf Eichmann dalam pembantaian di Kamp Konsentrasi ketika Perang Dunia II terjadi. Dalam mengkritisi Arendt, Phillip mengatakan bahwa evil deeds yang ada pada Eichmann bukan hanya berada dalam kegiatan atau aktivitas mentalnya saja, melainkan juga berada di keadaan sekitarnya dan aktivitasnya ketika dia melakukan tugas dalam mengeksekusi defenseless Jews.

Phillip juga menanggapi pernyataan Bernett mengenai tulisannya yang menyatakan bahwa problematika good and evil juga terjadi pada Heinrich Himmler. Dalam menanggapi tulisan Bernett, Phillip menambil morality of seeing-nya Corde dengan mengatakan bahwa Himmler memang mengalami pertarungan batin saat ingin melakukan eksekusi terhadap para Jews atau ketika dia sedang membuat lists mengenai siapa saja yang akan diexterminate oleh suborditanes-nya pada hari ini. Namun, pada kenyataannya, Himmler tidaklah membuka hati para bawahannya dalam melakukan pembantaian, dia hanya memberikan masalahan psikologis ketika pembantaian itu terjadi.


·         "Facing the Extreme : The War of All Against All" Tzvetan Todorov

Tzvetan Todorov (1939) adalah filsuf Bulgaria yang sudah hidup di Prancis sejak 1963. Buku-bukunya termasuk The Poetics of Prose (1971), On Human Diversity (1993), dan Imperfect Garden: The Legacy of Humanism (2002). Bagian berikut disadur dari Facing the Extreme : Moral Life in the Concentration Camps (1996).

Dalam bagian ini Todorov menjelaskan adanya tensi yang konstan antara nilai vital dengan nilai moral. Disatu sisi nilai vital mengatakan bahwa kita harus melakukan apa saja untuk bertahan hidup, bahkan jika hal-hal itu melanggar norma. Sedangkan nilai moral menekankan bahwa kita harus menolong orang lain terlepas seperti apa situasi dan kondisi saat itu. 

Todorov menyoroti praktik moral yang terjadi di kamp konsentrasi ketika sekelompok tahanan yang telah mengalami penyiksaan dan penindasan yang tidak manusiawi dipaksa untuk bertahan hidup, Todorov merangkum beberapa kesaksian dari mereka yang mengalami degradasi moral di kamp konsentrasi di Auschwitz. Beberapa dari mereka sudah meninggalkan nilai-nilai penting dan "harga diri dan martabat" sebagai manusia untuk tetap bisa bertahan hidup. Di dalam kamp konsentrasi tersebut mereka hanya bisa memikirkan diri mereka sendiri dan mematikan empati terhadap orang-orang disekitarnya.

Ada juga beberapa keraguan yang ditunjukan kepada tesis di atas yang menyatakan bahwa dalam tensi yang konstan antara nilai moral dengan nilai vital, nilai-nilai vital untuk bertahan hiduplah yang harus diutamakan. Di kamp konsentrasi juga dapat terlihat beberapa pribadi yang terus memilih untuk mempertahankan nilai-nilai moral dan kemanusiaan mereka.Mereka tidak menyangkal keegoisan mereka, tetapi mereka tetap memilih untuk mempertahankan kemanusiaannya. Ada orang yang berbagi makanan dan minuman dengan orang yang tidak dikenalnya, ada ayah dan anak yang saling berbagi roti walau berkekurangan. Ini menyatakan bahwa nilai moral masih menjadi pilihan bagi para tahanan Auschwitz yang selamat dan memberikan beberapa keuntungan bagi mereka seperti tenaga tambahan untuk bekerja karena bekerja secara bersama-sama.

Dalam pertentangan antara kedua teori ini, sebenarnya menurut sekmen ini bukanlah suatu masalah sama sekali karena 2 nilai, 2 teori seringkali bersifat kontradiktif, hal-hal seperti inilah yang membuat dunia tetap seimbang. Tetapi hal yang paling penting adalah posibilitas untuk tetap memilih nilai moral tetap ada.

·         "Strategies for Survival" Anne Applebaum

Anne Applebaum (1964) adalah kolumnis dan member dari papan editorial dari Washington Post adalah pengarang dari Between East and West : Across the Borderland of Europe (1994) dan segmen ini disadur dari the Pulitzer Prize winning Gulag : A History (2003)

Dalam segmen ini, penulis menuliskan bahwa strategi untuk bertahan dalam degradasi moral di masa yang kacau adalah dengan berkolaborasi dengan pihak lain, dan untuk menjaga stabilitas diperlukan adanya nilai-nilai moral yang ditentukan. Dituliskan bahwa akhirnya banyak tahanan yang selamat karena menggunakan strategi ini.

Nilai-nilai moral yang dipertahankan seperti rasa hormat terhadap martabat orang lain dan martabat diri sendiri menolong tahanan untuk tetap waras dan mempertahankan kemanusiaan mereka. Kegiatan berkumpul dan berserikat, meskipun dianggap kurang signifikan seperti kelompok olahrag atau teater di dalam penjara memberikan mereka ketenangan dan kekuatan untuk tetap melanjutkan hidup. Secara garis besar, hal yang ditulis oleh Applebaum adalah nilai-nilai moral yang dipertahankan akan menghasilkan kolaborasi antara pihak yang tertindas adalah salah satu strategi paling efektif dalam bertahan hidup ditengah kekacauan dan penindasan.

Pada bagian ini kami akan memberikan penjelasan akhir atau semacam kesimpulan, kesimpulan dari kami sebenarnya tidak bersumber pada para tokoh-tokoh filsuf di atas melainkan dari seorang filsuf Tiongkok yaitu Confucius (551-479) SM, ia adalah seorang ahli padagogi besar pertama dalam sejarah Tiongkok dan juga sebagai seorang filsuf yang cukup terkenal pada saat itu. Ia berasal dari negara Lu atau yang sekarang dikenal sebagai provinsi Shandong. Nama sebenarnya adalah Kong Fu Zi, yang orang barat menyebutnya Confusius atau kalau orang Indonesia lebih mengenalnya dengan sebutan Konghucu. Sebenarnya ia adalah seorang tokoh yang sangat menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan. Dalam permasalahanya dengan etika, moral dan kemanusian ada yang menarik bagi kami yaitu dalam kata-katanya. Confucius pernah berkata seperti ini "apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan itu kepada kita, maka jangan lakukan itu kepada orang lain" sebuah kata-kata yang simpel namun sangat bernilai sekali, seakan ya kalau kita tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada kita, maka jangan lakukan keburukan itu kepada orang lain. Maka dari itu, berperilakulah sebagaimana anda ingin diperlakukan oleh orang lain.

Selasa, 23 September 2014

Review Film "Dorian Gray" serta hubungannya dengan permasalahan ruang dan waktu


Na
Film Dorian Gray adalah sebuah film yang menceritakan seorang anak muda yang lugu, tampan, mewarisi kekayaan dari keluargannya dan mungkin merupakan salah satu kalangan keluarga terhormat di lingkungannya. Singkatnya film ini mengisahkan perjalanan hidup sosok Dorian Gray yang terlena dan terjebak dengan ketampanan dirinya sendiri serta kesenangan duniawi. Dorian yang awalnya adalah seorang anak yang lugu, akhirnya berubah menjadi sesosok orang yang hedonisme, mengejar kesenangan sebanyak mungkin untuk kepuasan dirinya sendiri.
Sebenarnya menurut saya sendiri, tidak ada hubungan film "Dorian Gray" degan permasalahan ruang dan waktu. Ruang dan waktu dalam film tersebut berjalan dengan normal, Dorian sama sekali tidak pergi ke masa lalu ataupun masa depan. Dia juga tidak bermain-main dengan waktu, hanya saja si Dorian terjebak dengan ketampanannya yang tidak menua dimakan usia, itupun disebabkan karena Dorian melakukan semacam pertukaran jiwa terhadap sebuah karya seni yaitu lukisan. Dari film itu, konflik dimulai saat sebuah lukisan di buat oleh salah satu seniman hebat bernama "Basil" yang terpesona dengan ketampanan Dorian. Basil akhirnya membuat sebuah lukisan Dorian di atas kanvas dan hasilnya lukisan sangat mirip serta sangat persis seperti Dorian yang asli, ketika melihat lukisan itu Dorianpun juga terpesona oleh ketampanan dirinya sendiri dan entah tanpa disadari atau tidak Dorian melakukan semacam kontrak atau penukaran jiwa terhadap lukisan itu, ia ingin dirinya tetap selalu terlihat seperti lukisan itu sehingga sampai kapanpun wajah dan tubuh Dorian akan tetap seperti lukisan itu. Namun hal itu juga punya resiko dan konsekuensinya, saat dorian menukarkan jiwanya kepada lukisan itu, Dorian memang tidak menua tetapi efeknya adalah lukisan itu yang menanggung semua dosa, luka, serta wajah tua Dorian.
Bagian yang membuat saya yakin kalo ini menyangkut hal yang berhubungan dengan jiwa adalah ketika adegan "Harry" salah satu teman Dorian mengajaknya ke sebuah tempat prostitusi, Harry mengajarkan kepada Dorian bahwa "manusia hidup untuk bahagia. Ketika manusia ingin baik, manusia seringkali malah tidak bahagia. Tetapi ketika manusia itu bahagia, maka itu adalah baik", kata Harry. Namun Dorian menyangkal peryataan tersebut dengan dengan pertanyaan, "bukankah ada harga yang harus di bayar untuk hal seperti itu?" lalu Harry bertanya "harga seperti apa itu?" Dorian menjawab "mungkin efeknya kepada jiwa" dari adegan itu saya mendapatkan kata kunci pertama yaitu "jiwa" lalu bagian yang menurut saya melihatkan bagian pertukaran jiwa itu adalah ketika lukisan yang di buat oleh Basil selesai, saat itu Dorian dan Harry juga ada di sana. Mereka bertiga melihat dan terkagum dengan lukisan itu, dan disinilah konflik di mulai. Dorian sangat terpesona dengan ksempurnaan dirinya sendiri dengan berkata "apakah benar aku terlihat seperti ini? Ini terlihat seperti hidup" lalu Harry menjawab "itu lebih baik dari hidup, dia akan tetap seperti itu sedangkan kau, Dorian... aku kuatir kau tidak akan selalu terlihat sepertinya" dari situ Dorian mulai melakukan semacam kontrak atau jiwa, entah secara sadar atau tidak tapi jika dilihat dari kata-kata dan maksud mimik wajah Dorian saat berkata "mungkin jiwaku harus kutancapkan ke altar setan" dengan maksud ia ingin dirinya tetap terlihat selalu sama dengan lukisan itu. Bersamaan dengan ucapan yang dikatan Harry yaitu semacam kata-kata yang mungkin adalah mantra atau apa saya lupa, hingga akhirnya tanpa disadari hal yang di inginkan Dorianpun terjadi.
Singkat cerita, Dorian yang tidak menua serta pikirannya yang terpengaruh oleh kata-kata Harry menjadikan ia sebagai sesosok hedonisme. Hingga setelah beberapa tahun kemudian saat Dorian kembali dari perjalanannya, semua orang terkejut dengan penampilannya yang tidak berubah sama sekali. Hingga Dorian sadar bahwa kebahagian yang sesungguhnya bukanlah seperti ini, ia ingin berubah dan menjadi baik lagi. Namun semua terlambat ketika Harry menyadari bahwa rahasia Dorian terletak pada lukisan dirinya dulu. Di kejadian itu akhirnya Dorian mengungkapkan semacam isi hatinya bahwa ia adalah orang yang dibuat oleh Harry, ia hidup dalam khutbah Harry yang Harry sendiri tak berani lakukan, ia menjadi seseorang yang bukan dirinya lagi. Lalu akhirnya Dorianpun mati terbakar sambil menancapkan pedang di lukisan itu.
Jika di kaitkan dengan permasalahan ruang dan waktu, menurut saya hampir tidak ada sama sekali kaitanya. Mungkin hanya permasalahan Dorian yang melawan penuan atau semacam hukum alam yang dimana seharusnya manusia menua dimakan waktu sedangkan Dorian tidak. Tapi tetap saja dalam film tersebut, alur ceritanya masih bergerak wajar mengikuti waktu, semua berjalan normal. Dan perinsip saya mengenai ruang dan waktu adalah sama seperti penjelasan yang pernah saya jelasakan sebelumnya bahwa "apapun itu, jika hal itu masih merupakan materi nyata maka dia tidak akan bisa keluar dari apa yang disebut oleh ruang dan waktu".
Referensi:
Film "Dorian Gray"
Pemikiran diri sendiri

Senin, 22 September 2014

pembahasan singkat mengenai moral


Pembahasan kali ini adalah "moral", moral seperti yang kita tau adalah suatu tundakan yang mengacu pada baik atau buruknya tindakan tersebut. Moral berasal dari kata "mos/mores" (bahasa latin) yang artinya adalah kebiasaan. Jadi menurut saya, moral merupakan tingkahlaku yang kita perbuat sehari-hari, ada yang baik dan ada juga yang buruk, itulah moral.

Namun yang mau saya beri tau adalah pengertian moral dari beberapa para ahli, yaitu ada Robert C. Martimor, Arthur Schopenhauer, dan Kant. Tiga orang ini memiliki pandangan berbeda mengenai apa yang disebut dengan moral serta penjelasannya mengenai moral tersebut.

Pertama adalah penjelasan Moral menurut Robert, menurutnya moral adalah sesuatu yang berasal dari tuhan karena manusia yang baik adalah manusia yang mengikuti ajaran tuhan. Jadi apa itu moral ya moral adalah bagian dari tuhan, kalo kita berbuat baik maka kita sudah mengikuti aturan tuhan. Sepertinya Robert adalah orang yang sangan percaya dengan tuhan karena bagi dia, hidup harus berdasarkan dengan apa yang kita percaya. Menurut Robert ada beberapa pondasi agama yaitu : tuhan sebagai pencipta, apa yang benar adalah perintah tuhan, kitab sebagai manual cara hidup, menjalankan tutunan tuhan, dan tuhan adalah pelindung manusia.

Lalu ada Arthur schopenhauer, sebenarnya ia adalah yang sangat bertolak belakang dengan Robert, menurutnya moral adalah hasil dari akal sehat dan tindakan rasional bukan dari tuhan ataupun agama. Intinya Arthur sangat menolak dengan apa yang disebut moral sebagai sesuatu yang berasal dari tuhan. Namun dari info yang saya dapat ada beberapa anggapan bahawa Arthur menyatakan pada dasarnya manusia itu egois. Egoisme itulah yang melahirkan penderitaan. Untuk menghilangkan penderitaan itulah manusia harus melepaskan egoismenya, melepaskan diri dari kehendak, dan jalan moralitas adalah salah satu jalan pelepasan kehendak. Manusia harus melepaskan egoismenya dan menolong orang sebanyak yang dia mampu.

Lalu yang terkhir adalah Kant. Kant tidak menyinggung ataupun memihak kepada Robert atau Athur, melainkan ia membuat sendiri pendapatnya mengenai moral. Baginya moral adalah suatu kewajiban, manusia harus meyakini adanya validitas moral. Menurutnya orang baik bukan karena orang lain ataupun tuhan, tetapi orang baik karena akal sehat. Dan menurutnya, tindakan moral dilakukan bukan karena ada konsekuensi tetapi karena ada kewajiban. Kewajiban terhadap diri sendir dan kewajiban terhadap rang lain.

Sebenarnya, menurut saya moral itu sendir bukanlah suatu ajaran tuhan, suatu pemikiran rasional, ataupun kewajiban. Menurut saya moral adalah suatu tindakan yang dimana sifatnya adalah relatif yang artinya dinilai dalam ruang lingkup sosial, baik buruknya suatu moral ditentukan juga oleh ruang lingkup tersebut. Moral bukanlah suatu hal yag hakiki atau tetap, moral adalah bagaimana kita meletakkan diri dalam ruang lingkup, menjaga tindakan, dan memahaminya.

Referensi:
Diskusi Kelompok
Catatan kuliah